Renungan KRT - GKP Bekasi

4 September 2019
Ibrani 13:1-8, 15-16
GAYA HIDUP YANG SELARAS DENGAN IMAN DAN PERILAKU KRISTIANI


Penjelasan Bahan

Kehidupan modern ditandai dengan semakin meningkatnya penggunaan teknologi, salah satunya teknologi informasi seperti televisi, internet, sosial media maupun telepon pintar yang kita miliki. Kemajuan teknologi informasi menyebabkan arus informasi semakin deras di terima oleh seseorang, baik informasi yang positif maupun yang negatif. Selain pemanfaatannya yang telah menjadi gaya hidup tersendiri, dan kemajuan teknologi informasi juga membuat kita dapat terpapar dengan gaya hidup yang bertentangan dengan iman Kristiani. Yaitu gaya hidup materialisme, hedonisme, individualisme, dan konsumerisme.
Para penganut materialisme memuja barang dan benda sebagai tujuan hidup. Para penganut hedonisme adalah orang-orang yang hidup hanya untuk mengejar kenikmatan dengan bersenang-senang dan pesta pora, hidup dijalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi nafsu yang tanpa batas. Para penganut individualisme menganggap diri sendiri lebih penting daripada yang lain, kepedulian terhadap orang lain tidak lagi penting, melainkan segala sesuatu berpusat pada diri sendiri. Para penganut konsumerisme suka menghabiskan waktu dan uang untuk berbelanja secara berlebihan (menghambur-hamburkan uang atau berfoya-foya). Bagi mereka, hidup berfoya-foya mencerminkan gengsi dan status dalam masyarakat. Gaya hidup materialisme, hedonisme, individualisme, dan konsumerisme telah membuat seseorang, termasuk juga orang Kristen yang terjebak di dalamnya, kehilangan kasih, kepedulian terhadap sesama, rasa keadilan, kesetiaan, keteladanan iman dan perilaku hidup benar, serta rasa syukur yang harusnya menjadi gaya hidup pengikut Kristus.
Surat Ibrani ditulis awalnya untuk orang-orang Yahudi yang sudah menjadi Kristen, dan juga kepada orang Kristen saat ini di mana kepercayaan kepada Yesus Kristus harus terlihat dalam pembaruan hidup. Orang percaya harus memperlihatkan karakter Kristus dalam kehidupan mereka. Kasih Kristus yang mendasari pikiran, perkataan dan tindakan. Dengan kasih Kristus, orang percaya akan sanggup memelihara kasih persaudaraan. Berbagai perbedaan tidak menjadi penyebab perpecahan, tetapi justru memperkaya dan melengkapi satu sama lain. (ayat 1).

Kasih persaudaraan terwujud secara nyata melalui tindakan memberi tumpangan. Tindakan yang semakin sulit dilakukan, khususnya di kota-kota besar. Dengan melakukannya, kita memosisikan orang lain sebagai saudara, bagian dari keluarga kita sendiri dan hidup kita menjadi berkat bagi sesama (ayat 2) Orang-orang yang pernah melakukan kesalahan bahkan sampai dihukum setelah bebas cenderung sulit untuk diterima lagi oleh masyarakat bahkan diperlakukan sewenang-wenang. Orang percaya memberikan pertolongan sebagai perwujudan kasih. (ayat 3)

Penerima surat ini dinasihati supaya dapat memelihara kekudusan perkawinan dan tidak pernah sekali-kali mencemarkan tempat tidur dengan perilaku zina (ayat 4), serta untuk tidak membuat diri menjadi hamba uang. Jemaat saat itu diingatkan untuk dapat mencukupkan diri dengan apa yang Tuhan sudah berikan di dalam kehidupan mereka. Ini berarti, upaya untuk mengejar kekayaan dan harta adalah sebuah kesia-siaan belaka. Sama seperti “minum air laut”, bukannya menghilangkan dahaga tetapi justru akan menambah rasa haus. Tidak akan ada rasa cukup. Untuk hal ini, jemaat diingatkan akan janji Tuhan sendiri yang mengatakan, "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (ayat 5). Dengan mengimani hal tersebut, maka tidak ada lagi rasa kuatir bahkan dengan penuh keyakinan dapat berkata, “"Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" (ayat 6). Keyakinan iman yang telah diperlihatkan oleh para pemimpin jemaat saat itu yang menyandarkan hidupnya hanya kepada Tuhan Yesus yang tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. (ayat 7-8).

Dan akhirnya, jemaat Ibrani diingatkan bahwa gaya hidup yang harus terus melekat di dalam diri mereka adalah bersyukur kepada Allah, beribadah dan memuliakan Allah lewat kehidupan mereka yang tidak pernah lupa untuk "berbuat baik dan memberikan bantuan” kepada sesama (ayat 15-16).

Sebagai pengikut Kristus, sudah sepantasnya kita memiliki gaya hidup yang sesuai dengan iman dan panggilan kita sebagai umat-Nya. Gaya hidup berupa kemampuan dan kesediaan untuk selalu hidup dalam kasih, menunjukkan kepedulian kepada sesama, berlaku adil dan benar, mencintai kesetiaan dan selalu belajar untuk mengucap syukur kepada Allah atas segala berkat pemeliharaan-Nya.


Untuk didiskusikan:
1. Apakah akibat gaya hidup materialisme, hedonisme, individualisme, dan konsumerisme dalam kehidupan pribadi, keluarga dan persekutuan kita?
2. Apa yang harus kita lakukan untuk melawan agar tidak terjebak dalam gaya hidup materialisme, hedonisme, individualisme, dan konsumerisme? (RNK)


11-Sep
Filemon 1:1-22
BERANIKAH ENGKAU MEMPERLAKUKAN SESAMA SEPERTI DIRIMU SENDIRI?


Penjelasan Bahan

Dalam kehidupan, kita tidak dapat menghindari perjumpaan dengan sesama kita. Kita mau atau tidak, suka atau tidak suka. Maka dalam setiap perjumpaan dengan sesama, kita harus bisa memaknainya dengan baik, sebab kita tak dapat memilih untuk berjumpa dengan siapa dalam kehidupan. Realitas inilah yang juga harus dilihat oleh kita sebagai pengikut Kristus. Cerminan diri sebagai pengikut Kristus harus ada ketika berjumpa dengan sesama. Pengajaran dan teladan Kristus terhadap sesama itulah yang harus dilakukan, yakni mengasihi sesama seperti diri sendiri.
Meski tahu akan pengajaran dan teladan Kristus tentang mengasihi sesama seperti diri sendiri, kita masih sering sulit untuk melakukannya. Ada banyak faktor yang membuat kita sulit mengasihi sesama kita seperti mengasihi diri kita sendiri, antara lain karena kita masih memusatkan perhatian pada diri sendiri dan mementingkan ego diri dibanding membangun relasi dengan sesama kita.

Hal inilah yang hendak diingatkan oleh Rasul Paulus, pertama-tama kepada Filemon. Dalam suratnya, Paulus menyatakan ucapan syukurnya kepada Allah dan menyatakan bahwa ia mengingat Filemon di dalam doanya. Di sini, Paulus mengajarkan kepada Filemon dan para pembaca surat ini untuk belajar mengingat sesama dalam doa (ayat 4), karena mendoakan sesama adalah baik adanya. Relasi dengan sesama harusnya juga didasari atas relasi baik dengan Allah yang tercermin di dalam kehidupan doa seseorang. Lebih lanjut lagi, Paulus mensyukuri pelayanan yang dilakukan oleh Filemon yang telah memberikan tempatnya untuk jemaat Galatia beribadah.[1]

Selanjutnya, Paulus juga memohon kepada Filemon untuk dapat mengampuni dan mengasihi Onesimus, hamba milik Filemon yang melarikan diri dengan membawa harta miliknya. Onesimus berjumpa Paulus dan akhirnya bertobat melalui pelayanannya. Melalui surat ini, Paulus meminta Filemon untuk menerima kembali Onesimus, bukan lagi menjadi hamba tetapi menjadi saudara. Meski Paulus memiliki otoritas untuk memerintahkan Filemon menerima Onesimus, tetapi Paulus lebih memilih untuk memohon kepada Filemon dengan penuh cinta kasih, agar dapat menerima Onesimus kembali juga sebagai saudara kekasih. Bahkan Paulus meminta Filemon menerima Onesimus seperti menerima dirinya, dan berjanji bila ada kerugian yang disebabkan oleh Onesimus, ia mau menanggungnya. Secara tidak langsung, Paulus sedang berusaha menghapuskan perbudakan di kalangan orang Kristen saat itu.

Dengan demikian, Paulus mengajarkan Filemon yang menerima surat dan juga kita yang membacanya hari ini, tentang mengaplikasikan apa yang Kristus ajarkan, yakni mengasihi sesama seperti diri sendiri. Jika kita ingin hal yang baik terjadi pada diri kita, maka kita pun hendaknya memberlakukannya kepada sesama pula. Membawa sesama dalam doa merupakan salah satu cara menyatakan kasih kepada sesama. Selain itu pula, tindakan konkret juga dibutuhkan. Paulus pun mencontohkannya dengan mengajarkan pengampunan kepada sesama. Kalau kita saja mau diampuni, maka kita juga harus mau mengampuni, sesuai dengan salah satu isi doa Bapa Kami. Paulus mengajarkan kepada Filemon untuk mengampuni Onesimus bahkan menerimanya menjadi saudara kekasih. Bahkan Paulus bersedia menanggung kesalahan Onesimus dan memohon pengampunan dari Filemon

Hari ini kita diingatkan, apa yang seharusnya kita lakukan sebagai pengikut Kristus yakni berani mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Kasih itu nyata, bukan imajinasi, oleh sebab itu dibutuhkan tindakan konkret. Pertanyaannya, beranikah kita bersikap seperti Paulus yang mampu mengingat sesama dalam doa, mengampuni bahkan menjamin kesalahan orang lain atas nama dirinya. Paulus memberi diri untuk melawan ketidakadilan yang terjadi saat itu, yakni perbudakan. Mengasihi sesama, haruslah sama dengan mengasihi diri sendiri. Kalau kita mau disayang, maka kita harus menyayangi. Kalau kita tidak mau disakiti, maka kita pun jangan menyakiti orang lain. Ketika kita mengasihi diri kita, kita pun harus mengasihi sesama, sebab kita tidak akan pernah bisa menghindar dari perjumpaan dengan sesama kita.


Untuk didiskusikan:
1. Apa yang membuat kita sulit untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri?
2. Bagaimana cara kita untuk bisa mengasihi sesama sepeti diri kita sendiri? (WAH)


18-Sep
1 Timotius 1:12-17
DOSA TAK SANGGUP KALAHKAN KASIH-NYA


Penjelasan Bahan

Memaafkan dapat menjadi perkara yang begitu berat dan sulit dilakukan kalau tidak datang dari hati yang tulus mengasihi. Apalagi kalau masalahnya berkaitan dengan seorang yang telah melakukan kesalahan besar pada kita, rasanya sulit untuk bisa benar-benar melupakan kesalahannya. Tapi kalau menyimpan dendam tanpa memaafkan, kita bisa terus menghakimi, pada akhirnya malah akan menyiksa diri sendiri dan menimbulkan dosa. Beruntungnya kita memiliki Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun, sehingga kesalahan apa pun yang kita lakukan, jikalau kita mau bertobat dan memohon ampun, maka Tuhan tidak akan dendam dan mengampuni kita atas dosa yang kita lakukan. Kasihnya mampu untuk mengalahkan dosa manusia.
Salah satu kualitas yang sering dijumpai pada tokoh-tokoh besar adalah kesadarannya yang tajam akan kelemahannya sendiri, dan tidak malu untuk mengakui kelemahan tersebut. Kualitas ini juga yang kita jumpai pada diri Paulus. Sebagai salah seorang rasul yang terkemuka yaitu Paulus, dulunya bernama Saulus. Ia tidak malu mengakui latar belakang kelabunya. Ia pernah menjadi seorang ganas dan penganiaya jemaat Allah. Paulus tidak pernah berusaha menutup-nutupi hal ini. Nas ini hanyalah salah satu dari beberapa bagian suratnya, yang secara blak-blakan menyaksikan masa lalunya yang kelam (bandingkan Galatia pasal 1).

Namun, ada hal lain yang perlu disimak dan dicermati dengan lebih mendalam. Di dalam nas ini, Paulus terus mengedepankan Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamatnya. Pengakuan atas masa lalu yang kelam tidak diikuti dengan membanggakan diri atas perubahan yang telah terjadi. Paulus mengakui bahwa Kristus Yesuslah yang menguatkannya, yang menganggapnya setia, serta memberikannya kepercayaan untuk terlibat dalam kegiatan pelayanan (ayat 12). Paulus mengakui bahwa semua yang terjadi semata-mata karena kasih karunia Tuhan itu telah dikaruniakan dengan limpah (ayat 13). Paulus mengakui bahwa Yesus telah mengasihani dirinya sebagai orang yang paling berdosa, dan telah menunjukkan kesabarannya (ayat 16). Ada ungkapan yang mengatakan: “Gratia (anugerah) selalu melahirkan gratitude (syukur)”. Inilah yang dilakukan Paulus. Setiap kali Paulus mengenang kembali jalan hidupnya, maka selalu akan timbul dalam hatinya penuh syukur, suatu doksologi/puji-pujian kepada Allah (ayat 17).

Hidup baru adalah hidup dalam anugerah. Walaupun kita sudah mengaku percaya, usaha melepaskan diri dari dosa adalah proses yang memerlukan perjuangan. Setiap saat kita ditantang untuk tidak berpikir negatif, selalu berbuat baik, memaafkan dan mengampuni, serta selalu berkata berkat bukan berkata kotor. Setiap saat kita dituntut untuk hidup jujur dan bermurah hati. Penuh kesabaran terhadap semua orang dan tidak menghakimi sesama kita. Tidak mudah memang untuk melakukannya, namun bukan berarti tidak bisa. Ada proses yang penuh perjuangan. Kasih Tuhan sanggup untuk mengubah kita, jika kita mau membuka diri untuk diproses. Sebagaimana Allah berkarya dalam diri Paulus, maka Allah juga akan berkarya bagi kita. Jika kita mengakui setiap kesalahan dan dosa kita, maka Allah akan memaafkan dan mengampuni kita. Saat kita menyadari bahwa Allah telah mengampuni dosa kita, maka kita tidak boleh melupakan panggilan untuk dapat memaafkan dan mengampuni orang yang bersalah kepada kita, serta melepaskan kebiasaan yang suka menghakimi sesama.
Kita memang harus membenci dosa, tetapi kita harus mengasihi orang yang berdosa sebagaimana Tuhan Yesus mengasihi kita dan semua orang berdosa. Bukan karena kuat dan gagah kita, tetapi karena kita telah menerima kasih dan cinta Kristus yang terus berkarya di dalam diri kita.


Untuk didiskusikan:
1. Apakah saudara pernah melakukan kesalahan besar, dan tidak dimaafkan ketika saudara mengakui kesalahan? Bagaimana respons saudara jika terjadi hal demikian?
2. Bagaimana cara saudara mengampuni dan mengasihi orang yang berbuat salah pada saudara, baik pasangan, anak-anak, orang tua, rekan persekutuan, rekan kerja, dan lain sebagainya? (DEW)


25-Sep
1 Timotius 2:1-7
SAKSI TUHAN YANG JUJUR



Penjelasan Bahan

Jujur adalah salah satu syarat mutlak seseorang dapat menjadi saksi dalam kehidupan ini. Saksi biasanya dihadirkan dalam persidangan untuk memperkuat pembuktian perkara. Ia diundang untuk menceritakan apa yang dilihat, didengar, diperhatikan, atau dialaminya sendiri. Sayangnya, kadang-kadang ada saksi palsu yang tidak dapat menceritakan kejadian yang sebenarnya. Bisa jadi ia takut jika ia bersaksi secara jujur, ia akan dianiaya atau hidupnya tidak aman. Ada juga saksi palsu yang rela disuap karena ia membutuhkan uang. Sering dijumpai banyak orang rela bersumpah palsu atau bersaksi dusta demi rasa solidernya kepada atasan, relasi bisnis, sahabat atau teman dekat. Rasa kesetiakawanan ini sering kali buta dan tidak obyektif. Walaupun tahu benar bahwa atasan, relasi bisnis, sahabat atau teman dekatnya itu melakukan kesalahan atau pelanggaran, mereka tetap saja mau menjadi saksi dusta. Ada pula orang yang rela menyampaikan saksi dusta meski hal itu bertentangan dengan hati nuraninya, bertentangan dengan doanya karena lebih memilih diiming-imingi oleh uang, harta, kuasa dan jabatan sehingga akhirnya mau melakukan kompromi untuk bersaksi palsu.
Rasul Paulus memberikan nasehat kepada Timotius tentang doa. Ia mendorong Timotius, anak rohaninya agar selalu menggerakkan jemaat untuk menaikkan permohonan, doa syafaat, dan ucapan syukur kepada Allah. Namun, semua itu dipanjatkan bukan sekadar untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk semua orang dan para pemimpin. Alasan utama adalah supaya jemaat di Efesus hidup tenteram dalam kesalehan dan kehormatan. Dengan berdoa bagi orang lain dan para pemimpin, jemaat sesungguhnya sedang belajar mewujudkan kepedulian dan kesaksian yang baik. Selain itu, alasan kedua adalah karena berdoa bukan sekadar kepentingan pribadi dipandang baik dan berkenan kepada Allah. Doa-doa yang kita panjatkan harus melukiskan tentang Allah yang selalu rindu untuk menyelamatkan manusia berdosa melalui karya anak-Nya yang tunggal Tuhan Kristus Yesus. Doa yang dipanjatkan bagi orang lain dapat menjadi kesaksian bagi banyak orang yang belum mengenal Allah. Rasul Paulus menegaskan bahwa untuk memberi kesaksian itulah ia ditetapkan sebagai pemberita dan rasul Allah.

Kenyataan hidup menunjukkan bahwa sering kali kita hanya pandai berkata-kata dalam doa tetapi kita tidak jujur dalam melaksanakan apa yang kita doakan. Ditambah lagi kita selalu diperhadapkan dengan realitas hidup keadaan makin bertambah jahat, orang lebih suka berbuat kejahatan daripada melakukan hal-hal yang baik. Lebih banyak pembohong daripada orang yang berkata jujur, bahkan di ruang pengadilan sekalipun banyak sekali terdapat ketidakadilan, ketidakjujuran, dusta, hoax dan saksi-saksi dusta serta sumpah-sumpah palsu sebagai pertanda bahwa manusia tidak lagi takut akan Tuhan. Jika keadaannya menjadi demikian, lalu bagaimana bisa doa yang kita panjatkan kepada Allah itu menjadi kesaksian dan pemberitaan tentang keselamatan dan kasih Allah?

Melalui pembacaan Alkitab saat ini, kita diajarkan bahwa ketika kita berdoa bagi orang lain dan para pemimpin, doa-doa yang kita panjatkan kepada Allah itu pun dapat menjadi kesaksian dan pemberitaan keselamatan dan kasih Allah. Apalagi jika disampaikan dalam kejujuran kepada Allah. Lakukan apa yang kita doakan dan doakan apa yang kita lakukan. Itulah bukti nyata menjadi saksi yang jujur dalam kehidupan bersama Tuhan dan sesama


Untuk didiskusikan:
1. Mengapa kita perlu berdoa dengan sikap yang jujur kepada Allah? Apa manfaatnya?
2. Apa hambatan yang sering membuat kita tidak dapat bersikap dan bertindak jujur dalam kehidupan ini (ASR)



2 Oktober 2019
1 Timotius 6:6-19
UGAHARI: PILIHAN HIDUP ORANG KRISTEN



Penjelasan Bahan

Dalam sebuah acara pengucapan syukur, tuan dan nyonya rumah menyediakan makan malam dengan menu yang beragam, spesial dan enak-enak. Saat acara makan tiba, seluruh tamu mulai mengantre makanan di meja makan. Satu demi satu mengambil makanan. Mereka yang antre lebih awal, segera mengambil makanan dengan porsi yang lumayan banyak bahkan terkesan berlebih. Semua menu diambil dan dengan porsi besar. Sedangkan yang antre belakangan, ada yang tidak kebagian menu makanan tertentu. Sayangnya, mereka yang mengambil makanan di awal, sepertinya hanya “lapar mata” dan mereka tidak menghabiskan makanan yang telah diambil sebelumnya. Ada banyak makanan yang tersisa di piring, tidak tersentuh atau hanya dicicipi sedikit saja. Akibatnya, makanan yang tidak dimakan dan tersisa itu terbuang percuma. Sementara itu, pada saat yang sama, ada banyak orang yang tidak kebagian makanan. Keserakahan orang-orang yang mengambil makanan di awal akhirnya diikuti dengan situasi banyak makanan yang terbuang dan adanya orang lain yang tidak turut menikmati menu makanan yang spesial dan enak tadi.
Cerita di atas mungkin saja sebuah ceritaan rekaan. Hanya saja cerita tadi menggambarkan betapa orang berlomba-lomba untuk mengambil banyak karena keserakahan (greed) padahal apa yang diambil melebihi apa yang menjadi kebutuhan (need). Akibatnya terbuang dan sia-sia, dan ada banyak orang lain yang tidak kebagian makanan. Apa jadinya jika kehidupan orang Kristen seperti demikian? Pada saat ini kita akan menghayati pilihan hidup orang Kristen di tengah zaman yang semakin serakah, yaitu dengan memilih dan melakukan spiritualitas keugaharian.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan ugahari: 1. Sedang; pertengahan, 2. Sederhana, sahaja. Jadi keugaharian adalah kesahajaan, kesederhanaan. Dalam konteks spiritualitas, ugahari bermakna adanya semangat iman yang meyakini bahwa rahmat Tuhan itu cukup untuk semua ciptaan-Nya. Oleh karena itu, setiap orang yang meyakininya akan mengembangkan gaya hidup sederhana, tidak berfoya-foya, serakah atau rakus. Berani berkata “cukup” atas godaan materi.

Surat 1 Timotius 6:6-19 adalah bagian akhir dari surat Paulus kepada anak rohaninya yang berisikan nasehat pribadi dan peringatan tentang ajaran sesat dan cinta uang. Ayat 6 Paulus berbicara tentang keuntungan beribadah dengan apa yang kita miliki. Karena tidak ada sesuatu yang kita bawa ke dalam dunia ketika kita lahir dan tidak ada yang kita akan bawa ketika kita meninggal. Ibadah dengan rasa cukup artinya jika seseorang hanya mempunyai sedikit harta di dunia ini tetapi itu cukup untuk menyokong hidupnya, maka dia tidak perlu lagi menginginkan lebih banyak harta. Sebab bagi orang Kristen, ibadah itu sendiri merupakan suatu keuntungan. Kita merasa cukup dengan berkat yang Allah sudah berikan serta meyakini bahwa itulah yang terbaik bagi kita.

Ayat 10 Paulus memperingatkan Timotius bahwa akar segala kejahatan adalah cinta uang. Orang yang mencintai uang terdorong untuk melakukan kejahatan. Mereka menjadi tamak dan menyiksa diri mereka. Karena bagi orang yang mencintai uang, dunia ini jauh lebih berharga dibandingkan dengan iman kepada Tuhan. Paulus ingin agar Timotius tetap setia di jalan Tuhan dan dalam menjalankan tugasnya, terutama untuk memenuhi kepercayaan yang diembannya sebagai hamba Tuhan. Paulus menegaskan kepada Timotius untuk mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan (ayat 11) dalam relasinya dengan jemaat yang ia layani. Paulus mendorong Timotius untuk melakukan bagiannya seperti seorang yang bertanding dalam pertandingan iman yang benar untuk mendapatkan hidup yang kekal.

Bagaimanakah dengan kehidupan kita sekarang? Apakah kita mau menjadi seperti Timotius yang terus berjuang dalam spiritualitas keugaharian, yang hidup dalam kesahajaan dan kesederhanaan namun di dalamnya kita melihat berkat Tuhan yang cukup? Atau justru kita akan menjadi sama seperti dunia yang hidup dalam keserakahan? Hendaknya kita memilih ugahari sebagai pilihan hidup orang Kristen. Ugahari yang juga mau memberi ruang untuk berbagi berkat bagi sesama sebagai respons bahwa rahmat Tuhan cukup untuk semua ciptaan-Nya.


Untuk didiskusikan:
1. Hal apakah pada diri kita yang harus dibangun agar memiliki sikap ugahari?
2. Ceritakan pengalaman Saudara ketika memilih untuk hidup dalam kesederhanaan di tengah dunia yang penuh keserakahan? (FPA)




9 Oktober 2019
2 Timotius 1:1-14
BERIMAN DAN BERBANGSA



Penjelasan Bahan

Dalam suratnya kepada Timotius, Rasul Paulus mengungkapkan syukur dan sukacita mengingat betapa Timotius tumbuh menjadi seorang yang penuh iman oleh karena pengaruh besar dari ibu dan neneknya. Paulus mengungkapkan betapa kerinduannya untuk dapat berjumpa kembali dengan Timotius, serta menasihatinya untuk terus mengobarkan iman dan karunia yang sudah Allah berikan kepadanya. Untuk itu Paulus juga mengingatkan Timotius bahwa Allah sesungguhnya telah memberikan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban, bukan roh ketakutan. Dengan demikian, Timotius dan juga semua orang percaya memiliki keberanian untuk bersaksi tentang Yesus Kristus yang telah menyelamatkan dan memanggil semua orang percaya dengan panggilan kudus berdasarkan kasih karunia-Nya. Akhirnya, Paulus menasihati Timotius untuk memelihara “harta yang paling indah” yang telah dipercayakan kepada semua orang percaya oleh Roh Kudus yang diam di dalam diri orang percaya, yaitu iman kepada Yesus Kristus. Dari bacaan 2 Timotius 1:1-14 ini jelas kita melihat penekanan Paulus kepada Timotius adalah tentang iman kepada Yesus Kristus. Iman yang harus dipelihara dan disaksikan oleh setiap orang percaya. Iman kepada Yesus yang harusnya membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban, bukan ketakutan sebab Roh Kudus telah diam di dalam diri setiap orang percaya.
Yang patut untuk direnungkan bersama adalah bagaimana iman kepada Yesus Kristus itu dapat disaksikan di dalam kehidupan ini, terutama lewat karya dan kerja di tengah-tengah kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Hal ini bukanlah persoalan sederhana dan gampang. Sering tidak mudah bagi seorang percaya untuk dapat mewujudkan karyanya sebagai orang beriman di tengah-tengah kehidupan ini. Sering ada rasa curiga dari orang lain, terutama yang berbeda keyakinan. Sering pula terjadi penolakan. Bisa jadi hal ini akan semakin keras terasa apabila pemahaman kita tentang menyaksikan iman kristiani hanya sekedar dengan perkataan saja, dan bukan karya nyata sebagai seorang yang beriman kepada Yesus Kristus dan sekaligus warga negara dan bangsa Indonesia.
Inilah tantangan bagi setiap orang percaya. Ia harus beriman dan semakin beriman kepada Yesus, tetapi pada saat yang sama imannya itu tampak di dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Beriman dan berbangsa akhirnya dilihat bukan sebagai dua hal yang berbeda dan tidak berhubungan satu sama lain. Seharusnya justru ada keterkaitan di antara keduanya. Kita, di Indonesia ini, dengan iman sebagai orang yang percaya kepada Kristus, harus dapat mengambil peran-peran yang jelas, nyata dan berdampak di dalam kehidupan kita. Mulai dari yang terdekat, yaitu di sekitar tempat di mana kita berada dan selanjutnya berkembang sampai ke seluruh Indonesia. Tidak perlu takut untuk melakukannya, sebagai roh yang dikaruniakan dan ada pada diri kita adalah roh yang membangkitkan keberanian, kasih dan ketertiban.

Untuk didiskusikan:
1. Apa yang dapat kita lakukan dengan “roh yang membangkitkan keberanian, kasih dan ketertiban” yang ada di dalam diri kita sekarang dalam konteks hidup berbangsa, bernegara dan bermasyarakat?
2. Buatlah sebuah perencanaan di dalam Jemaat untuk dapat melakukan suatu aktivitas dalam masyarakat yang menunjukkan peran aktif kita selaku orang Kristen dan sekaligus warga negara Indonesia! Lalu lakukanlah itu secara nyata sebagai program Jemaat menjelang HUT ke-85 GKP! (AAS)

16 Oktober 2019
2 Timotius 2:8-15
BERSYUKUR MELALUI PEWARTAAN KABAR BAIK



Penjelasan Bahan

Kepada Timotius, Paulus mengingatkan bahwa Yesus Kristus adalah yang ia beritakan dalam karyanya sebagai seorang pemberita Injil, bahkan, oleh karena Injil itu ia harus menderita dan terbelenggu sebagai seorang penjahat. Yesus yang sama juga yang harus diberitakan oleh Timotius. Meskipun demikian Paulus tetap sabar menanggung segala sesuatunya dengan kesadaran sebagai orang-orang yang telah dipilih oleh Allah untuk menerima kasih karunia-Nya. Oleh karena itu, Paulus tekankan adanya pengharapan, “Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia.” Sebaliknya, Paulus memperingatkan siapa yang menyangkal Kristus, maka Kristus tidak akan mengakuinya. Oleh karena itulah, Paulus menasihati Timotius untuk dapat terus layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang memberitakan Injil.
Bagaimana cara kita mengucap syukur kepada Allah? Apa wujud ungkapan syukur kita? Apakah hanya melalui memberikan persembahan syukur berupa materi melalui gereja dalam peribadahan-peribadahan yang ada? Apakah hanya melalui perbuatan baik yang dilakukan kepada sesama kita manusia? Apakah ada wujud ungkapan syukur lain yang dapat dilakukan oleh setiap orang percaya? Satu hal yang harus selalu disyukuri oleh setiap orang percaya adalah bahwa penebusan dosa dan keselamatan dari Allah Bapa di Surga sudah kita terima dan rasakan. Bahkan, oleh karena kasih karunia-Nya, setiap orang percaya dilayakkan di hadapan Allah untuk menjadi seorang pekerja yang tidak usah malu untuk memberitakan perkataan kebenaran, yaitu Injil tentang Yesus Kristus. Inilah bentuk ungkapan syukur dari seorang yang telah menerima kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus. Ungkapan syukur atas keselamatan dan hidup dalam anugerah Kristus.


Untuk didiskusikan:
1. Bagaimana kita mengusahakan diri menjadi “seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu”? Apa yang harus dilakukan?
2. Apakah yang menjadi strategi Saudara (di Jemaat Saudara) memberitakan Kabar Baik Injil tentang Yesus Kristus di tengah-tengah masyarakat? (AAS)




23 Oktober 2019
2 Timotius 3:14-4:5
HIDUP BENAR BUTUH PERJUANGAN


Penjelasan Bahan

Bagian surat kedua kepada Timotius ini berisikan pesan dan nasihat Paulus kepada Timotius agar terus teguh berpegang pada kebenaran dari pengajaran iman yang telah Timotius terima sejak masih kecil, yaitu melalui nenek dan ibunya. Nasihat ini hendak menguatkan Timotius yang melaksanakan tugas pemberitaan Injil di Jemaat Efesus, sebuah jemaat yang adalah hasil dan buah dari pemberitaan Injil yang Paulus lakukan sebelumnya (lihat Kisah Para Rasul 19). Paulus pandang perlu untuk menguatkan Timotius sebab Timotius sedang berhadapan dengan guru-guru palsu yang menyesatkan jemaat. Timotius perlu untuk berpegang pada pengajaran yang benar dan sehat, terutama saat berhadapan dengan para guru palsu yang mengajarkan ajaran yang sesat. Mereka ini adalah orang-orang berkhianat, memfitnah, menipu, memberontak terhadap ajaran dan kehendak Allah, serta tidak peduli dengan sesama (bandingkan 3:2-3). Kepada Timotius, Paulus menegaskan bahwa ia tidak perlu takut, ragu atau goyah asalkan tetap berpegang pada ajaran yang benar, yaitu Firman Allah sendiri. Firman Allah yang adalah bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Oleh sebab itu, mempelajari Kitab Suci merupakan sebuah bekal yang berguna untuk mengabarkan Injil. Kitab Suci yang telah terlebih dahulu menempa diri Timotius, juga menjadi media yang Allah gunakan untuk melengkapi serta memberi kemampuan kepada hamba-hamba-Nya.
Sejak kecil kita dianjurkan untuk mengabarkan Injil atau kabar baik dalam ucapan dan perbuatan. Orang yang mengumandangkan berita Injil, hidupnya seharusnya senantiasa benar di hadapan Allah. Ia harus dapat menyelaraskan ucapan dan perbuatannya sesuai kehendak Allah. Persoalannya, tidak mudah untuk berupaya menjadi orang yang selalu melakukan kebenaran sesuai dengan kehendak Tuhan. Ada saja orang yang tidak suka dengan apa yang kita lakukan, dan bahkan mengajak kita untuk melakukan tindakan yang tidak benar. Padahal, salah satu cara untuk mengabarkan Injil adalah dengan menjadikan diri kita sendiri sebagai teladan dari perilaku hidup yang benar dan adil. Oleh karena itu, nasihat Paulus kepada Timotius ini perlu untuk kita perhatikan.

Untuk dapat berperilaku hidup benar dan adil, maka caranya adalah dengan hidup sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan yang rupanya juga berfungsi untuk menyatakan apa yang salah, mengoreksi, menegur, memberikan nasihat, dan memperbaiki perilaku. Pertama-tama, tentu hal ini harus diberlakukan kepada diri kita sendiri terlebih dahulu. Baru setelah itu, sebagai bagian dari memberitakan Injil, kita menyatakan apa yang benar yang seharusnya dilakukan sesuai dengan Firman Tuhan. Hal ini tentu tidak akan berjalan dengan mulus, bila kesaksian hidup kita tidaklah menjadi teladan yang baik tentang hidup di dalam kebenaran. Jadi, perlu ada perjuangan yang gigih terlebih dahulu untuk hidup di dalam kebenaran Firman Tuhan sebelum memberitakan kebenaran itu kepada orang lain.


Untuk didiskusikan:
1. Upaya apa saja yang telah saudara lakukan dan harapkan untuk menjadi orang benar?
2. Ceritakan pengalaman pribadi saudara tentang tantangan yang dihadapi ketika berusaha menjadi orang benar! (ENB)

PEKAN KELUARGA - HUT GKP85

30-Oct

Tema Bulanan DPA Oktober:
Manusia Indonesia Seutuhnya: Berwawasan Kebangsaan dan Mendukung Upaya Pembangunan Masyarakat Adil Makmur Berdasarkan Pancasila



06-Nov
Tema Bulanan DPA Oktober:
Manusia Indonesia Seutuhnya: Berwawasan Kebangsaan dan Mendukung Upaya Pembangunan Masyarakat Adil Makmur Berdasarkan Pancasila



13-Nov

Tema Bulanan DPA Oktober:
Manusia Indonesia Seutuhnya: Berwawasan Kebangsaan dan Mendukung Upaya Pembangunan Masyarakat Adil Makmur Berdasarkan Pancasila






20 Nov
2 Tesalonika 3:6-13
MENJADI ORANG BAIK DI DUNIA YANG ‘TIDAK BAIK’, MELELAHKAN?


Penjelasan Bahan


Bila engkau baik hati, bisa saja orang lain menuduhmu punya pamrih; tapi bagaimanapun, berbaik hatilah. Bila engkau jujur dan terbuka, mungkin saja orang lain akan menipumu; tapi bagaimanapun, jujur dan terbukalah. Bila engkau mendapat ketenangan dan kebahagiaan, mungkin saja orang lain jadi iri; tapi bagaimanapun, berbahagialah. Bila engkau sukses, engkau akan mendapat beberapa teman palsu, dan beberapa sahabat sejati; tapi bagaimanapun, jadilah sukses. Apa pun yang engkau bangun selama bertahun-tahun bisa jadi akan dihancurkan orang lain hanya dalam satu malam; tapi bagaimanapun, bangunlah dan teruslah berkarya. Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang; tapi bagaimanapun, teruslah berbuat baik. Bagaimanapun, berikan yang terbaik dari dirimu sebaik-baik yang dapat engkau lakukan. Pada akhirnya, engkau akan tahu bahwa ini adalah urusan antara engkau dan Tuhanmu, Bukan urusan antara engkau dan mereka. (Bunda Theresa)
Berbuat baik bisa dilandasi dengan berbagai macam motivasi. Salah satu motivasi yang sering kali menjadi dasar adalah supaya orang lain juga berbuat baik. Mungkin itu hal yang wajar diharapkan oleh manusia, namun menjadi kurang tepat dalam kacamata iman. Jika hanya didasari dengan harapan supaya orang lain berbuat baik karena kita sudah berbuat baik, kita akan kecewa karena bisa saja harapan itu tidak terpenuhi. Bahkan bisa saja justru sebaliknya. Ketika harapan tidak tercapai, kita dapat berhenti untuk berbuat baik dengan pikiran, “Untuk apa berbuat baik, jika orang lain tidak berbuat baik kepada kita?”

Surat Tesalonika 2 ditulis dalam sebuah kondisi di mana jemaat Tesalonika merasa kecewa karena ada informasi yang menyatakan bahwa Tuhan Yesus sudah datang dan mereka kehilangan kesempatan untuk mengalami itu. Dalam kondisi yang merasa kecewa itu mereka harus berhadapan dengan kondisi kehidupan yang tidak mudah terkait dengan konsekuensi orang percaya. Dalam kondisi kecewa itu mereka menjadi lemah lesu dalam bekerja, bahkan ada yang tidak mau bekerja. Hal ini juga berdampak pada perbuatan baik yang mereka lakukan. Sehingga mereka tidak sungguh melakukan hal yang baik, bahkan cenderung abai, bermalas-malasan, karena kondisi tantangan iman yang berat ditambah lagi informasi Tuhan Yesus yang sudah datang sehingga mereka kehilangan momentum. Mereka merasa bahwa dunia sudah tidak baik bagi mereka, untuk apa berbuat baik, toh juga sudah kehilangan momentum kedatangan Kristus? Dalam hal inilah penulis surat Tesalonika yang kedua, memberikan nasihat.

Penulis mengungkapkan agar jemaat Tesalonika bisa tetap melakukan pekerjaannya dan juga tetap berdoa. Begitu juga dalam hal pekerjaan atau perbuatan-perbuatan yang baik. Karena ketika orang beriman tidak melakukan perbuatan dan pekerjaan baik, digambarkan sebagai orang yang tidak setia, padahal Allah adalah sosok yang setia, konsisten dalam setiap pekerjaan dan perbuatan baiknya bagi manusia. Sehingga perbuatan baik yang dilakukan orang percaya seharusnya tidak tergantung kepada perbuatan baik di sekelilingnya. Meskipun situasi di sekelilingnya dirasakan tidak baik, orang percaya harus tetap melakukan kebaikan karena Allah sudah terlebih dahulu melakukan kebaikan dengan penuh setia kepada manusia, tatkala manusia jatuh dalam dosa. Tolak ukur dalam seseorang berbuat baik adalah Allah yang sudah berbuat baik, bukan supaya orang lain berbuat baik bagi kita. Kondisi bisa saja menjadi sangat melelahkan ketika kita berbuat baik hanya karena mengharapkan orang lain berbuat baik kepada kita. Namun, ketika kita melakukannya sebagai bentuk syukur kepada Allah, maka kondisi tidak baik yang ada di sekeliling kita tidak membuat kita kehilangan energi atau mengalami kelelahan luar biasa. Justru melalui setiap perbuatan baik yang kita lakukan, Allah senantiasa memberikan kekuatan. Dengan tetap berbuat baik, kita akan tetap menjadi berkat di tengah-tengah kondisi yang tidak baik, bahkan memungkinkan untuk bisa mengubah kondisi yang tidak baik itu menjadi baik dengan penyertaan Roh Kudus. Untuk itu tetaplah berbuat baik, karena Allah sudah setia melakukannya terlebih dahulu kepada kita


Untuk didiskusikan:
1. Apa saja hal yang dapat membuat kita lelah untuk bisa konsisten berbuat baik?
2. Bagaimana caranya kita tetap bisa berbuat baik, walaupun orang-orang di sekeliling kita tidak berbuat baik? (DAP)


27-Nov
Kolose 1:15-20
KRISTUS SUDAH MEMULAI. KAMU?


Penjelasan Bahan

Anamnesis atau pengenangan terjadi dalam sebuah ibadah. Melalui unsur-unsur dalam ibadah, seperti simbol, warna, gerak, dan lain sebagainya, kita mengenang Kristus dan karya pelayanan-Nya. Tujuan anamnesis adalah memesis, yakni meniru. Setelah kita mengenang Kristus, kemudian kita menirunya dalam sikap dan laku kita sehari-hari.
Bacaan kita mengungkapkan bahwa Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu (ayat 15). Pernyataan ini pertama-tama menjelaskan bahwa Kristus adalah gambar Allah (Images of God, Imago Dei). Bila kita mengingat kisah penciptaan manusia, maka manusia diciptakan menurut gambar Allah (bandingkan Kejadian 1:26-27), yakni Kristus. Hal ini memang berbeda dari pemahaman terdahulu yang mengungkapkan manusia sebagai Imago Dei. Berdasarkan Surat Kolose, Kristuslah Imago Dei, sehingga manusia adalah citra Kristus. Manusia menampilkan Kristus, dan Kristus mewadahi kemanusiaan, bukan hanya keunggulannya, tetapi juga kerentanannya.

Kedua, bacaan kita mengungkapkan Kristus, yang sulung, bukan hanya dalam penciptaan, tapi juga dalam karya pembaruan. Kita diciptakan dan dibarui di dalam dan melalui Kristus. Kita ada dalam gerak terus-menerus: anamnesis dan memesis, mengenang dan meniru. Panggilan untuk meneladani Kristus harus terus bergema dalam hati kita dan mendorong semangat untuk melakukannya.

Selanjutnya bacaan kita menjelaskan lebih lanjut, teladan apa yang kita tiru dari Yesus, yakni pendamaian, “…dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya…”(ayat 20). Minggu lalu kita merayakan Hari Kristus Raja dan kita tahu bahwa yang pemahaman kita atas Kerajaan Allah bukan melulu soal surga, melainkan hidup damai sejahtera yang harus diwujudkan kini di dunia. Bila berdamai terjadi atas kesepakatan dua pihak, maka pendamaian tidaklah perlu menunggu dua pihak sepakat. Kita melakukan karya pendamaian dengan mendahului memberi diri, melalui sikap mengalah, meminta maaf lebih dulu, mengampuni dan berkorban bagi kepentingan yang lebih besar, sehingga damai sejahtera terwujud. Kristus sudah memulai karya pendamaian ini, bagaimana dengan saudara?


Untuk didiskusikan:
1. Berikan contoh konkret dalam mengenang dan meniru dilingkungan rumah, gereja, tempat kerja atau masyarakat!
2. Apa yang menjadi penghambat untuk melakukan karya pendamaian dalam konteks masyarakat multikultural dan multireligi? (YWP)




4 Desember 2019
Roma 13:8-14
BANGUN DAN HIDUPLAH DALAM TERANG!


Penjelasan Bahan

24 jam x 7 hari adalah anugerah terbesar yang Allah berikan kepada manusia, karena dengan adanya waktu manusia memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu yang baik dan berguna. Namun anugerah waktu yang sudah Allah berikan sering kali berlalu begitu saja. Setiap hari manusia melakukan rutinitas pekerjaan dan aktivitas yang sudah terjadwal, hal tersebut membuat setiap harinya berjalan begitu cepat. Hal ini juga berlaku untuk kehidupan 365 hari yang dilalui manusia setiap tahunnya, sehingga banyak ungkapan seperti ini muncul, “Wah, perasaan kemarin baru pergantian tahun, kok sekarang sudah mau Natal lagi ya?” Perjalanan waktu yang terasa semakin cepat ini seharusnya membuat manusia semakin sadar akan kehidupan yang semakin singkat sehingga wajib digunakan sebaik-baiknya.
Namun kenyataan yang muncul di permukaan, dengan waktu yang cepat berlalu ini manusia terlena dengan keadaan dunia yang carut marut. Di mana setiap orang berjuang untuk memenuhi nafsu pribadi atau kelompoknya sehingga berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkan kelompok yang lain. Belum lagi tindakan manusia yang begitu luar biasanya memperkosa alam ciptaan. Waktu yang cepat berlalu ini digunakan untuk tindakan yang merugikan, hingga pada akhirnya membuat iman jemaat menjadi kendor dan loyo karena begitu banyaknya tantangan dalam kehidupan yang harus dihadapi. Hal tersebut adalah sebuah pergumulan besar bagi umat percaya.

Rasul Paulus saat ini mengingatkan kepada kita semua untuk bangun dari tidur nyenyak rohani yang membuat kita merasa “kendor dan loyo” dalam kehidupan kerohanian kita. Kata “bangun” digunakan oleh Rasul Paulus untuk mengingatkan jemaat di Roma agar mereka terjaga bahkan tersadar dari sebuah kenyataan bahwa kehidupan saat ini bukan lagi untuk bermalas-malasan, atau untuk berdiam diri, karena banyak hal yang harus diubah dan ditinggalkan.

Perubahan yang diharapkan oleh Rasul Paulus adalah mengenai perubahan sikap dan perilaku manusia. Perikop ini dimulai dengan penjelasan Rasul Paulus mengenai hukum kasih yang senantiasa diajarkan oleh Yesus Kristus. Kasih diharapkan dapat menjadi dasar segala perubahan yang dilakukan oleh manusia, sehingga manusia mau untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan, dan menggantinya dengan senjata terang (ayat 12).

Senjata terang tersebut didapatkan manusia ketika ia mau “mengenakan” Tuhan Yesus Kristus di dalam hatinya (14). Kata “mengenakan” itu mengandung arti mau menghayati, meneladani, dan melakukan setiap hal yang Yesus ajarkan kepada manusia. Itulah senjata terang yang bisa digunakan untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan.
Dengan bertekad mengenakan senjata terang, memberikan kesempatan yang baik kepada diri sendiri untuk mulai sadar dalam menjalani kehidupan yang sangat cepat ini. Anugerah waktu yang Allah berikan juga tidak akan berlalu sia-sia karena ada hal baik yang kita lakukan, dan ada perjuangan yang kita usahakan untuk terus hidup sesuai dengan apa yang telah Allah firmankan. Itulah sebuah kehidupan yang sejati sebari kita menanti kedatangan sang Mesias.


Untuk didiskusikan:
1. Apakah tindakan nyata yang sudah Gereja (baca: jemaat Saudara sendiri) lakukan untuk membawa sebuah perubahan baik bagi lingkungan masyarakat? jika belum, apakah yang bisa jemaat lakukan untuk membawa sebuah perubahan baik bagi lingkungan masyarakat sesuai dengan konteks masyarakat jemaat Saudara?
2. Ceritakanlah pengalaman Saudara ketika berusaha hidup melaksanakan pengajaran yang Yesus sampaikan! (LWH)


11 Desember 2019
Roma 15:1-13
DASAR PERSEKUTUAN: SALING MENERIMA


Penjelasan Bahan

Dalam sebuah persekutuan, perbedaan adalah suatu hal yang wajar. Mau tak mau, suka atau tidak suka kita harus menerima kenyataan bahwa tidak semua orang memiliki latar belakang, kemampuan, pemahaman dan kapasitas yang sama. Bila ada orang menolak hadirnya perbedaan dan berupaya menyeragamkan, atau setidaknya memaksakan kehendaknya pada pihak lain, maka persekutuan itu dapat pecah.
Dalam kehidupan persekutuan jemaat di Roma pun, perbedaan -- khususnya antara mereka yang “lemah” dan “kuat” -- rupanya cukup mencolok. Pemahaman kuat dan lemahnya itu bukan merujuk pada pemahaman fisik atau materi, melainkan mengacu pada kedewasaan iman seseorang di dalam Kristus. Orang yang “kuat” adalah orang yang tidak mengandalkan pertumbuhan imannya semata-mata pada ketaatannya memenuhi hukum Taurat seperti halnya orang Yahudi pada umumnya saat itu. Orang yang “kuat secara iman” memilih untuk membebaskan diri dari perbudakan aturan hukum Taurat dan mengandalkan hidup dalam kepekaan terhadap Firman Tuhan (ayat 4). Sebaliknya, orang yang “lemah secara iman” mengacu pada orang Kristen yang lebih mengandalkan ketaatannya memenuhi tuntutan hukum Taurat dengan berbagai ritual dan tradisinya sebagai landasan kedewasaan iman.
Paulus melihat bahwa perbedaan di atas itu berpotensi menimbulkan perpecahan dalam tubuh jemaat. Tak jarang mereka akan saling menghakimi sesamanya yang tidak satu pandangan. Untuk itu ia menasihati agar jemaat dapat meneladani Kristus yang lebih mengutamakan kebutuhan orang lain ketimbang diri-Nya sendiri. Bagi Paulus, seyogianya yang kuat dapat “menanggung kelemahan orang yang tidak kuat” (ayat 1). Kekuatan itu bukan menjadi sebuah kuasa untuk menghambat dan menindas mereka yang lemah secara iman.

Di tengah perbedaan itu pun, Paulus menegaskan pentingnya hidup dalam kerukunan dan kesatuan sesuai dengan kehendak Kristus (bandingkan Yohanes 17:21), mengingat tujuan semua pengikut Kristus adalah “memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus” (ayat 6). Untuk mewujudkan semua itu, Paulus mengingatkan perlunya sikap saling menerima satu dengan lain, sama halnya Kristus bersedia menerima jemaat dalam kelemahannya masing-masing (ayat 7). Tujuannya adalah agar iman mereka yang lemah dapat dibangun semakin kuat (ayat 2).

Sebagai sebuah persekutuan, Gereja sangat rentan terhadap perpecahan oleh karena pelbagai perbedaan yang ada di dalamnya. Akan tetapi, sesungguhnya Gereja memiliki dasar kebersamaan yang kuat, yaitu Kristus sendiri (bandingkan Efesus 2:14). Kristuslah yang menjadi landasan panggilan hadirnya Gereja di tengah dunia. Gereja dipanggil untuk bersekutu, melayani, dan bersaksi bagi dunia dalam kesatuannya itu selama masa penantian kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Untuk dapat memenuhi panggilan itu, Gereja harus sepenuhnya meneladani hidup Kristus yang tidak egois (ayat 3-4), bertindak sesuai kehendak Kristus (ayat 5-6) seraya memohon kekuatan dari Allah sendiri untuk mewujudkannya (ayat 5). Teladan dan kehendak Kristus yang dapat menjembatani perbedaan itu adalah sikap saling menerima berlandaskan kasih (Kolose 3:14). Dengan menerima perbedaan yang ada, orang akan bersikap lebih toleran dan bijaksana sehingga kehidupan persekutuan dapat dibangun dan dijauhkan dari perpecahan.


Untuk didiskusikan:
1. Bagaimana sikap saling menerima dapat menjadi pemersatu dalam perbedaan bagi sebuah persekutuan? Adakah batasan dalam hal saling menerima itu? Jelaskan!
2. Apa kendala sikap menghadirkan sikap saling menerima di tengah persekutuan? Bagaimana cara mengatasinya? (JNM)

18 Desember 2019
Yakobus 5: 7-10
TABAH DALAM PENANTIAN



Penjelasan Bahan

Pada bulan November 2003 yang lalu, sebuah kabar dari Bandung sempat mengejutkan negeri ini. Di Kecamatan Bale Endah, pinggiran Kota Kembang, 283 orang dari Jemaat Pondok Nabi didapati tengah berdoa menurut pemahaman mereka. Hari itu sebuah peristiwa besar tengah dinanti, yaitu kedatangan Roh Kudus yang akan mengangkat mereka ke surga secara utuh. Selanjutnya bumi akan “musnah”. Kedengarannya begitu mengerikan hingga aparat merasa perlu turun tangan. Polisi datang dan membubarkan ritual yang dianggap sesat. Suatu tindakan menurut kelompok ini telah menggagalkan rencana penyelamatan seluruh jemaat Pondok Nabi.
Pentolan kelompok itu, Mangapin Sibuea dan sejumlah pengikutnya mau tidak mau berurusan dengan hukum. Mereka menyisakan derita ratusan orang yang telah merantau beribu kilometer, menjual harta benda, meninggalkan keluarga bahkan pekerjaan demi menyongsong satu peristiwa dahsyat: kiamat. Apa yang bisa dijelaskan tentang ramalan yang gagal itu? “Pikiran bahwa tanggal 10 November itu kiamat terjadi, sangat salah. Itu hanya merupakan awal dari kiamat yang akan terjadi, “ ujar Mangapin dari Rumah Tahanan Kebon Waru, seperti dikutip Pikiran Rakyat 13 November 2003. Lalu kapan? Dalam buku sucinya, “Kiamat Dunia Akan Segera Terjadi”, Mangapin menjelaskan dunia masih memiliki sisa waktu tiga tahun lagi. Kiamat yang ditandai dengan perang Harmagedon bakal terjadi di Mei 2007. Meski diralat, percaya atau tidak, sebagian pengikutnya meyakini ucapan pendeta asal Sumatera Utara itu. DR. Robert MZ Lawang, sosiolog dari Universitas Indonesia Jakarta, salah satu ilmuwan yang prihatin dengan kasus-kasus semacam ini. Ia melihatnya sebagai keinginan sekelompok orang untuk memperoleh kesejahteraan melalui jalan spiritual yang tidak faktual. “Suatu sikap yang mencerminkan kehidupan mereka yang tidak realistis lagi”, ujar Robert tidak bermaksud menyalahkan. Ia justru merasa kasihan karena para pengikut kelompok-kelompok itu hanya merupakan dampak dari kehidupan di sekelilingnya yang juga sudah tidak realistis. Kenyataan sehari-hari yang mereka temui serta masyarakat umumnya, selalu jauh dari harapan. “Seseorang yang sudah bekerja keras misalnya, ternyata tidak mendapat hasil seperti yang diinginkan, sementara ada pihak lain yang lebih santai relatif lebih enak.”, demikian kata Kepala Program Pascasarjana Sosiologi Fisip Universitas Indonesia.

Surat Yakobus dituliskan pada pertengahan abad pertama, saat orang-orang Kristen mengalami penganiayaan. Tradisi meyakini bahwa surat ini ditulis oleh Yakobus, saudara Yesus, dan dialamatkan kepada orang-orang Kristen di luar Palestina. Tampaknya Yakobus sangat menghayati pengajaran Yesus melalui Kotbah di Bukit, di mana orang miskin dan menderita menjadi tujuan utama dari kepedulian Allah. Surat ini ditulis dengan pemahaman bahwa kedatangan Tuhan (parousia)akan tiba dengan segera.

Ada beberapa sikap yang dianjurkan oleh Yakobus pada masa penantian :
1.Kesabaran
Kesabaran di sini berarti memiliki semangat yang panjang. Yakobus membandingkannya dengan sikap yang dimiliki petani yang sedang menantikan hasil panen yang berharga. Setelah melewati beberapa musim, maka musim yang dinantikan yaitu musim menuai akan tiba. Hanya mereka yang setia dan tekunlah yang akan menuai hasilnya.
2.Keteguhan hati
Keteguhan hati berarti tegar menghadapi berbagai penderitaan, tanpa kehilangan prinsip iman yang harus diperjuangkan. Kita tidak boleh bimbang. Kita harus tetap meyakini ajaran yang benar dalam menghadapi rupa-rupa angin pengajaran.
3.Tidak bersungut-sungut
Tidak bersungut-sungut berarti kemampuan untuk tahan menunggu lama dengan tidak mengomel. Sikap ini mengingatkan kita pada peristiwa umat Israel, ketika berjalan dari Mesir menuju tanah perjanjian. Mereka bersungut-sungut dan cenderung menyalahkan Musa, bahkan Allah sendiri. Akhirnya, sebagian mereka gagal di tengah jalan dan tidak sampai di negeri perjanjian.
4.Tidak saling mempersalahkan
Mereka yang tidak sabar terhadap penantian, akan sering kali menoleh ke belakang dan mengingat-ingat kenyamanan masa lalu. Mereka akan menyalahkan situasi saat ini dan sehingga gagal menghayati proses yang sedang terjadi sebagai bagian dari karya Allah.
5.Mengikuti teladan para nabi
Kisah para nabi selalu menjadi pelajaran yang berharga tentang bagaimana kita harus hidup mengandalkan Tuhan. Berani menyatakan suara Allah. Keteladanan para Nabi itu, harus juga mewarnai kehidupan umat. Dengan itu, umat mampu menjadi alat pemberitaan kehendak Allah di tengah dunia.

Marilah kita menantikan kedatangan-Nya yang kedua kali dengan bersikap benar. Menghargai hidup di dunia ini dengan berjuang. Setia dan taat pada kehendak-Nya. Memberlakukan kasih, kebenaran dan keadilan Allah sebagai panggilan umat-Nya.


Untuk didiskusikan:
1. Bagaimanakah cara kita menyikapi penyebaran ajaran tentang prediksi-prediksi waktu datangnya Hari Tuhan?
2. Mengapa banyak orang yang masih tergoda untuk mempercayai prediksi-prediksi datangnya Hari Tuhan, sekalipun sudah berulang kali telah terbukti salah? (HPP)


8 Januari 2020
Efesus 3:1-12
PERJUMPAAN YANG MENGUBAHKAN


Penjelasan Bahan

Andrea Hirata dalam karyanya yang berjudul “Padang Bulan” mengatakan, “begitu banyak orang berubah lantaran sebuah pertemuan (perjumpaan).” Apa yang diungkapkan oleh Hirata benar adanya. Perjumpaan seseorang dengan orang lain atau dengan situasi tertentu atau dengan masa waktu tertentu dapat berdampak pada perubahan diri (baik positif maupun negatif). Entah hatinya, pikirannya, sikapnya atau juga sifatnya. Hal demikian dialami oleh Paulus. Kita mengenal siapa sosok sang murid Gamaliel tersebut sebelum berjumpa dengan Kristus. Ia yang dulu beringas dan tak kenal ampun terhadap kekristenan secara tiba-tiba mengalami metanoia (berputar 180 derajat/pertobatan). Perjumpaannya dengan Kristus mengubah seluruh alur kehidupannya. Walaupun ia tidak bertatap muka dengan Yesus, walaupun perjumpaannya hanya via suara, namun Yesus mampu mengubah dirinya. Sejak saat itu Paulus tampil sebagai sang pembawa pesan “kabar baik”.
Pesan Paulus kepada jemaat Efesus adalah kabar bahwa mereka yang bukan Yahudi pun juga menjadi ahli waris janji Allah di dalam Kristus. Mereka juga diakui sebagai bagian dari tubuh Kristus (ayat 6). Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), menjadi ahli waris berarti orang-orang yang turut merasakan berkat Allah. Berkat tersebut tidak hanya eksklusif bagi orang-orang Yahudi, namun berkat tersebut ‘meledak’ di seluruh dunia sehingga semua orang dapat menerima berkat tersebut, termasuk jemaat Efesus. Kondisi apa yang mau kita lihat? Pertama, sosok Paulus melalui suratnya ingin mempertemukan antara terang kasih Kristus dengan jemaat Efesus. Kendati perjumpaan tersebut hanya melalui sepucuk surat namun ada sebuah harapan dan keyakinan dalam diri Paulus bahwa isi surat tersebut dapat mengubah kehidupan spiritualitas jemaat Efesus. Kedua, ada sebuah perubahan identitas. Yang tadinya orang-orang Efesus bukan siapa-siapa (bukan bagian dari ahli waris), namun ada pengakuan bahwa mereka juga bagian dari ahli waris Allah. Dan seyogyanya pengakuan tersebut dapat membawa perubahan dalam diri orang-orang Efesus.
Dalam kehidupan sehari-hari perjumpaan kita dengan Kristus serupa dengan jemaat Efesus. Kita tidak pernah secara langsung bertatap muka dengan Yesus. Akan tetapi, perjumpaan dengan Yesus terjadi ketika kita menyelami sabda-Nya, merefleksikan cinta kasih-Nya, melakukan kehendak-Nya. Tindakan-tindakan tersebut menjadi cara bagi kita untuk berjumpa dengan Yesus dalam kehidupan ini. Perjumpaan yang tidak terbatas ruang dan waktu tertentu, perjumpaan yang mengubah kehidupan dan identitas kita (sebagai pengikut Kristus).


Untuk didiskusikan:
1. Melalui pengalaman dan refleksi saudara, di mana dan atau dalam kondisi apa kita dapat berjumpa dengan Yesus dalam kehidupan ini?
2. Dampak apa yang dapat saudara rasakan/alami ketika perjumpaan tersebut terjadi? (HSV)

15 Januari 2020
Kisah Para Rasul 10:34-43
MENJADI BENAR ATAU MELAKUKAN YANG BENAR?



Penjelasan Bahan

Status sebagai umat pilihan Allah telah begitu melekat kuat dalam diri bangsa Israel, sehingga dalam kehidupannya mereka menjaga kekudusan dan kemurnian dengan begitu ketat. Kemurnian tersebut salah satunya ditunjukkan dalam hal makanan. Dalam Imamat 11 dituliskan tentang binatang yang haram dan yang tidak haram untuk membedakan mereka dengan bangsa lain. Hingga dalam hal relasi, mereka tidak boleh bercampur dengan bangsa lain khususnya dalam hal pernikahan.
Kisah Para Rasul 10 menceritakan tentang perjumpaan Petrus dengan seorang perwira pasukan non-Yahudi yang bernama Kornelis. Sebelum mereka bertemu, baik Kornelis dan Petrus menerima penglihatannya masing-masing dari Allah. Kornelis melihat malaikat Allah yang menyuruhnya menjemput Petrus. Sedangkan Petrus melihat ada berbagai binatang yang haram serta perintah untuk memakannya. Sebagai orang Yahudi yang taat, Petrus menolak untuk memakannya. Namun Tuhan menegaskan bahwa apa yang dinyatakan halal oleh Allah tidak boleh dinyatakan haram oleh manusia.

Ketika Tuhan tidak membedakan binatang yang haram dan yang tidak haram, manusia tidak punya hak untuk menyatakan haram suatu binatang. Demikian pula dalam hal relasi, Tuhan tidak membuat pembedaan di antara bangsa-bangsa. Sehingga manusia tidak punya hak untuk menyatakan najis atau tidak tahirnya suatu bangsa. Manusia tidak perlu menghabiskan waktu dan tenaga untuk memperdebatkan mana, siapa yang benar atau salah. Mana hewan yang haram, mana yang tidak haram, bangsa mana saja yang najis atau tidak tahir. Waktu dan tenaga bukan dipakai untuk memperdebatkan siapa yang paling benar, tapi mempergunakan waktu justru untuk melakukan yang benar atau mengamalkan kebenaran.

Penglihatan yang Petrus alami, serta perjumpaannya dengan Kornelis, membuatnya mengerti bahwa yang berkenan bagi Tuhan adalah setiap orang yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran. Tuhan berkenan kepada seseorang bukan berdasarkan statusnya di masyarakat, benar atau tidaknya seseorang bagi masyarakat tersebut. Tuhan justru berkenan kepada setiap orang yang takut akan Dia dan yang melakukan kebenaran.

Penglihatan yang Petrus alami dan perjumpaannya dengan Kornelis memberikan pemahaman baru bagi Petrus. Sebagai orang Yahudi, Petrus memahami betul bahwa ada batasan dan larangan untuk mengonsumsi bahan makanan tertentu yang dikategorikan sebagai makanan yang haram. Bahkan bukan saja soal makanan, hukum agama Yahudi pada saat itu juga membatasi pergaulan seseorang dengan orang lain. Inilah pandangan awal Petrus. Penglihatan Petrus dan perjumpaannya dengan Kornelis membuat Petrus mengalami pencerahan dan cara pandang yang baru. Hal ini membuat Petrus belajar untuk sanggup mengkritisi nilai-nilai dan norma yang berlaku saat itu tetapi yang sifatnya diskriminatif. Petrus memiliki cara pandang baru yang tolok ukurnya adalah ajaran Tuhan Yesus Kristus sendiri yang mengajarkan untuk mempraktikkan kasih tanpa membeda-bedakan orang yang menerimanya.

Kenyataannya saat ini masih banyak orang yang berupaya menjadi benar di masyarakat tapi abai dalam melakukan kebenaran. Waktu dan tenaganya dihabiskan untuk membicarakan pakaian yang benar, cara ibadah yang benar, ajaran yang benar, dan lain sebagainya. Orang lebih tertarik dipandang sebagai orang benar di depan sesamanya, daripada melakukan yang benar di hadapan Tuhan. Akibatnya keadilan, kemanusiaan dan lingkungan hidup menjadi terabaikan, sebab manusia hanya memperhatikan dirinya sendiri. Fokus kita adalah seharusnya adalah bagaimana berlomba-lomba melakukan kebenaran, dalam relasi dengan sesama dan dalam relasi dengan lingkungan.


Untuk didiskusikan:
1. Bagikan pengalaman Saudara dalam melakukan yang benar, apa kendala yang Saudara alami?
2. Menurut Saudara apa dampak jika setiap orang bersedia melakukan yang benar dalam relasinya dengan sesama dan lingkungan? (SYW)

22 Januari 2020
1 Korintus 1: 1-9
PELAYAN BERTUGAS MELAYANI DENGAN RAMAH!


Penjelasan Bahan

Kota Korintus merupakan salah satu pusat perdagangan dan perniagaan terbesar di dunia kuno. Selain dikenal sebagai kota yang kaya raya dan padat penduduk, sayangnya Korintus juga dikenal dengan kemerosotan moralnya. Orang-orang di Korintus hidup sembrono, liar, suka bermabuk-mabukan dan melakukan percabulan. Rasul Paulus mendirikan jemaat di Korintus pada perjalanan penginjilannya yang kedua. Meskipun banyak orang yang mengaguminya namun tak kalah banyak juga yang tidak menyukainya. Pelayanan Rasul Paulus tidak berjalan dengan mulus, ia akhirnya harus meninggalkan kota Korintus. Ia menetap tinggal hanya selama 18 bulan di Korintus untuk menjalani masa pelayanannya.
Setelah orang Korintus mendengar berita tentang Injil, namun ternyata sikap kehidupan mereka tetaplah sama. Mereka hidup seperti tidak ada bedanya saat sebelum bertemu dengan Rasul Paulus dan setelah bertemu dengannya. Surat kepada jemaat di Korintus muncul karena adanya persoalan dalam kehidupan persekutuan. Persoalan tersebut yakni pengelompokan-pengelompokan yang memecah belah persatuan. Masing-masing kelompok mengunggulkan tokoh pemimpin favoritnya. Rasul Paulus mengingatkan agar tidak secara berlebihan membanggakan pemimpinnya, sebab bisa terjadi perpecahan yang dapat merusak iman. Selain itu persoalan yang muncul lainnya adalah umat berbuat bebas seperti tanpa aturan. Mereka cepat berpuas diri, congkak dan tetap melakukan percabulan.
Rasul Paulus melalui suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus mengungkapkan dua hal yakni pertama tentang keprihatinannya dan kedua tentang berita-berita kebenaran yang menasihati jemaat. Keprihatinannya tersirat melalui sepuluh ayat pertama di pasal pertama. Ia menyebutkan nama Yesus Kristus hingga 10 kali. William Barclay menafsirkan bahwa Rasul Paulus terlihat sedang menganggap jemaat benar-benar dalam keadaan sulit karena hidup terjerat dosa. Nama Yesus Kristus yang berulang kali disebut menyatakan bahwa Tuhan Yesuslah yang diandalkan dalam menghadapi keadaan sulit.
Sebelum memulai nasihatnya yang dijelaskan dalam pasal-pasal berikutnya, Rasul Paulus memulai percakapannya dengan tutur yang lembut. Ia mengucap syukur untuk keberadaan jemaat di Korintus (ayat 4). Jemaat Korintus pun dipuji dan dibanggakan bahwa mereka tidak hanya sebatas kaya dalam materi namun juga dalam perkataan dan pengetahuan (ayat 5). Mereka juga dilihat tidak kekurangan satu karunia pun (ayat 7). Cara memulai teguran seperti ini barangkali bisa efektif untuk membuat hidup orang bisa berubah. Perlu disadari bahwa di dunia ini tidak ada seorang pun yang menyukai teguran. Meski teguran akan membantu untuk lebih baik tetapi tidak gampang menerima teguran begitu saja. Teguran dengan nada tinggi bahkan terselip kata yang kasar, hanya akan membuat hubungan menjadi tegang dan suasana memanas. Ketika Rasul Paulus mendengar kabar jemaat di Korintus pastilah merasa sangat sedih dan kecewa. Banyak orang yang tak mampu menahan rasa sedih dan kecewa lalu malah melampiaskannya dengan emosi marah yang meledak-ledak. Akan tetapi sebagai pelayan Tuhan, Rasul Paulus mampu mengendalikan dirinya.

Tokoh pelayan Tuhan yang muncul dalam khotbah minggu, yaitu Yohanes Pembaptis, telah memberi kita pelajaran tentang sikap seorang pelayan yang tidak boleh bermegah dengan mempersaksikan diri sendiri. Dengan kata lain pelayanan tidak dijalankan dengan tinggi hati melainkan harus rendah hati. Rendah hati tidak hanya tercermin melalui pelayan yang tidak mengunggulkan diri sendiri melainkan juga dalam cara melayani yang ramah. Para pelayan dapat belajar dari cara berujar Rasul Paulus yang menyiratkan nada lemah lembut dan penuh kasih sayang. Pelayan hendaknya tidak boleh gegabah dalam mengucapkan kata-kata dan dalam bersikap. Jika para pelayan arogan di hadapan orang lain maka bisa merusak nama baik gereja. Gereja akan ditakuti sebab tidak merangkul dan tidak ramah. Barangkali pernah mendengar ungkapan sindiran bahwa petugas supermarket atau petugas satpam di bank malah memperlakukan orang lain lebih ramah dibandingkan orang-orang di gereja.
Akhirnya, kehidupan jemaat Korintus memang tidak patut untuk dicontoh namun sekalipun demikian, tidak dengan sewenang-wenang Rasul Paulus mengucapkan kata-kata nasihat. Kata-kata Rasul Paulus telah disampaikan dengan penuh hikmat sebagaimana yang diceritakan dalam perikop ini. Jika tidak demikian maka mungkin saja perkataannya akan menjadi sia-sia dan tak berfaedah. Melalui teladan Rasul Paulus ini, kita diingatkan bahwa hendaknya menciptakan suasana pelayanan yang ramah sehingga banyak orang akan merasa nyaman dan betah ketika berada di gereja.


Untuk didiskusikan:
1. Tantangan apa saja yang ditemukan ketika melayani Tuhan?
2. Bagaimana menghadapi orang-orang yang tidak mau seturut dengan kehendak Tuhan? Bagaimana kita menegurnya? (JST)




29 Januari 2020
1 Korintus 1:10-17
B
BERSATU SEHATI SEPIKIR MEMBAWA PERUBAHAN DAN PEMBARUAN


Penjelasan Bahan

Hidup ini adalah kompetisi. Lihat saja jiwa berkompetisi manusia ada di berbagai bidang. Dalam dunia pendidikan, anak-anak sudah diajarkan untuk bersaing mendapatkan posisi tertinggi di kelas. Dalam dunia olahraga, banyak sekali kompetisi yang digelar dengan berbagai hadiah atau medali. Dalam dunia bisnis pun, semua pebisnis bersaing memperebutkan pelanggan atau pengguna. Tidak heran bahwa manusia mulai terbentuk untuk terus menerus bersaing. Persaingan dan jiwa kompetisi adalah produk sampingan dari gagasan ideal demokratis Yunani. Orang-orang Yunanilah yang menciptakan Olimpiade. Efek samping dari persaingan adalah pengelompokan atau perpecahan. Dalam turunannya, efek ini bisa juga berdampak pada pencemaran lingkungan dan sikap tidak peduli terhadap kesehatan ekologi. Misalnya, orang mulai mengeruk alam demi bersaing dalam bisnis tanpa memikirkan dampak buruk bagi alam itu sendiri.
Dalam kehidupan jemaat Korintus, persaingan muncul dan menyebabkan terjadinya perpecahan dan pengelompokan berdasarkan pimpinannya. Masing-masing orang mengikatkan dirinya dengan orang tertentu yang pernah melayani di jemaat tersebut. Pada masa kini, kita lebih mengenalnya dengan istilah favoritisme terhadap pendeta tertentu (kebanggaan). Ada empat golongan yang muncul di jemaat Korintus. Golongan Paulus diikuti oleh orang-orang pertama yang memasuki kekristenan seperti Paulus. Golongan Apolos memiliki kesetiaan kepada misionaris besar nomor dua yang pernah bekerja di Korintus.[2] Mereka lebih menekankan hikmat yang lebih tinggi ketimbang iman sederhana yang diberitakan oleh Paulus. Golongan Kefas meyakini bahwa mereka harus menunjukkan kesetiaan mereka kepada Petrus sebagai rasul utama (bandingkan Matius 16:13-19). Golongan Kristus diikuti oleh mereka yang tidak mengakui kerasulan mana pun dan mengklaim memiliki komunikasi langsung dengan Kristus melalui Roh.

Oleh karena perpecahan tersebut, Paulus mengingatkan mereka bahwa Kristus tidak terbagi-bagi dan bahwa mereka semua dibaptis bukan di dalam nama pimpinan mereka. Persoalan siapa dibaptis oleh siapa, rupanya menjadi titik persoalan pada saat itu di mana masing-masing pihak mengunggulkan pemimpin mereka yang telah membaptis mereka. Oleh sebab itu, Paulus sempat menyinggung bahwa ia bersyukur tidak banyak membaptiskan orang terkecuali Krispus dan Gayus (ayat 14) dan menegaskan bahwa pekerjaannya justru bukanlah untuk “membaptiskan” tetapi memberitakan Injil. Apa yang disampaikan oleh Paulus ini, rupanya Paulus maksudkan untuk meredam gejolak persoalan siapa pemimpin yang difavoritkan dalam jemaat pada saat itu. Paulus hendak mengatakan bahwa ia yang adalah juga pemimpin jemaat justru melakukan hal yang lebih prinsip dari apa yang jadi persoalan. Ia memberitakan Injil.

Selain itu, Paulus mengingatkan mereka untuk erat bersatu, dan sehati sepikir. Kata yang diterjemahkan dengan “erat bersatu” ini menunjukkan suasana keteraturan, suatu pemulihan kepada keadaan semula,[3] yang damai, benar, dan tenteram. Orang-orang Korintus mempunyai kemampuan intelektual dan mental (sehati) dan kemampuan untuk mengevaluasi fakta-faktanya (sepikir)[4]. Dengan sehati sepikir berarti mereka diajak untuk menilai dan mengevaluasi diri mereka sehingga mereka sendiri dapat melihat betapa perpecahan tidak boleh terjadi di antara mereka.

Sebagai persekutuan yang dipanggil oleh Allah, penting untuk sehati sepikir melayani-Nya dan melakukan kehendak-Nya yaitu membawa perubahan dan pembaruan dalam hidup. Dalam persekutuan, yang terpenting bukanlah memamerkan karunia pribadi, keunggulan, serta favoritisme, tetapi adalah soal kemampuan bersama untuk memikirkan bagaimana caranya memulihkan keadaan dan membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Keadaan yang dimaksud adalah keadaan yang telah muncul diakibatkan oleh persaingan yang tidak sehat. Dalam persoalan masa kini, persaingan itu bukan hanya memunculkan perpecahan antar pribadi atau golongan, tetapi juga kerusakan lingkungan.

Oleh karena itu, adalah lebih baik menyatukan ide, kekuatan dan kerja nyata (erat bersatu, sehati dan sepikir) untuk memikirkan bagaimana cara terbaik yang dapat dilakukan untuk memulihkan, memperbaiki, membarui, dan menjaga keutuhan kehidupan ini (termasuk alam semesta dan relasi dengan sesama). Justru dengan melakukan hal ini, Gereja telah memberitakan Injil Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia.


Untuk didiskusikan:
1. Selain yang sudah dijelaskan, dampak apa saja yang ditimbulkan dari persaingan (kaitkan diskusi antara lain dengan kerusakan alam yang terjadi akibat eksplorasi dan eksploitasi alam yang berlebihan, atau bentuk persaingan lainnya yang kerap terjadi di dalam kehidupan sehari-hari)?
2. Bagaimana cara memulihkan keadaan/ dampak negatif yang dimunculkan akibat dari persaingan? (JSM)



05 Februari 2020
1 Korintus 1:18-31
KEBAHAGIAAN SEJATI


Penjelasan Bahan

Teknologi yang semakin berkembang serta pengetahuan yang semakin luas dan maju, membuat ukuran penilaian manusia terhadap seluruh bagian dalam kehidupan ini menjadi semakin tinggi pula. Penilaian ini berlaku juga untuk manusia, semakin pintar maka semakin dipuji, semakin berpengetahuan maka semakin bangga terhadap diri sendiri. Tidak heran banyak manusia masa kini berlomba-lomba untuk semakin pintar, semakin berpengetahuan menurut ukuran yang ditetapkan manusia dan semakin mahir menjelaskan segala sesuatu dengan logika. Selain itu, ukuran “kebahagiaan” pada akhirnya adalah kemampuan akal, logika yang hebat dan pengetahuan serta ilmu yang dimiliki oleh manusia. Maka tanpa memiliki ukuran “kebahagiaan” tersebut, maka seseorang justru dianggap tidak bahagia.
Hal serupa terjadi di jemaat Korintus. Bagi beberapa orang, kematian Yesus di kayu salib bukanlah peristiwa yang masuk akal dan dinilai bodoh karena mereka tidak memahami peristiwa kehidupan Yesus secara utuh. Mereka hanya melihat peristiwa salib tanpa melihat peristiwa kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga. Menurut mereka, keselamatan yang diberikan melalui jalan salib merupakan hal bodoh, maka orang-orang yang percaya pada Yesus pun dinilai bodoh (ayat 18). Oleh sebab itu, banyak orang yang mencari jalan keselamatan dengan hikmat dan pengetahuan sendiri. Mereka mengandalkan ilmu-ilmu pengetahuan dunia, kebijaksanaan dunia, kearifan dunia, dan para ahli keagamaan. Akan tetapi, apa yang Tuhan lakukan adalah sesuatu yang berbeda dengan pandangan mereka dan sulit untuk mereka terima. Hal ini karena hikmat Tuhan jauh melebihi hikmat manusia. Kisah kematian Yesus memberi kesan bahwa Ia adalah sosok yang lemah, tidak berdaya untuk melawan, dan membiarkan diri-Nya menderita. Akan tetapi kebangkitan dan kenaikan-Nya menunjukkan bahwa Tuhan itu sungguh kuat. Maut dan dosa dapat ditaklukkan-Nya. Hanya saja, cara yang digunakan Tuhan untuk menebus dosa manusia berbeda dengan hikmat dunia, bukan seperti yang manusia pikirkan.

Berangkat dari catatan di atas, maka kita dapat sepakati rupanya cara yang Tuhan tetapkan sering kali tak terduga. Tuhan dapat bekerja melalui siapa saja, dan kapan saja. Artinya, setiap kita mempunyai kesempatan untuk dipakai Tuhan dalam rencana-Nya. Dunia boleh mengukur prestasi kita menurut kepintaran dan keahlian pengetahuan kita, tetapi penilaian Tuhan tidak terletak di situ. Dunia boleh memvonis kita lemah dan tidak berarti, tetapi Tuhan mampu menjadikan kita sangat berarti dan berprestasi di mata Tuhan. Tuhan memilih orang-orang yang dinilai bodoh oleh manusia lain dan orang-orang yang dianggap lemah oleh manusia lain, justru untuk melakukan karya-Nya dan menyatakan kuasa-Nya. Tuhan memilih orang-orang yang dianggap rendah, hina, dan tidak berarti oleh dunia justru untuk menunjukkan kebenaran-Nya di dalam kehidupan ini. Hal ini jelas menunjukkan bahwa manusia tidak mampu mengalahkan bahkan menyamakan diri dengan Allah. Maka dari itu, manusia tidak mempunyai alasan untuk menyombongkan diri di hadapan Allah. Kesombongan akan dijatuhkan oleh Tuhan. Misalnya, seorang biarawati Tuhan pakai untuk mengajarkan pada dunia tentang mencintai sesama dengan totalitas, yaitu Bunda Teresa. Seorang anak kecil bisa Tuhan pakai untuk mengingatkan orang dewasa yang sedang bermusuhan. Seorang yang mempunyai keterbatasan pada tubuhnya, justru Tuhan beri kemampuan untuk bersaksi dan menguatkan banyak orang yang tidak memiliki keterbatasan tubuh.

Akhirnya, kebahagiaan kita diukur dari seberapa banyak diri kita dipakai Tuhan, seberapa dalam kita terlibat dalam rencana-Nya, seberapa setia kita mengikuti yang Tuhan inginkan. Prestasi dan kebahagiaan kita di hadapan Tuhan adalah seberapa dalam kita memahami hikmat Allah yang membenarnya, menguduskan, dan menebus dosa manusia, memahami hikmat Allah yang menyelamatkan dan memberi kehidupan. Prestasi dan kebahagiaan kita adalah justru ketika kita dapat melakukan kehendak-Nya dan terlibat di dalam rencana-Nya mendatangkan damai sejahtera bagi dunia ini.


Untuk didiskusikan:
1. Jujur, apa yang menjadi bentuk kebahagiaan dalam hidup saudara saat ini dan bagaimana meraihnya?
2. Sekarang, dengan memahami isi renungan ini, bagaimana saudara mewujudkan kebahagiaan sejati itu dan apa yang harus dilakukan untuk hal itu? (ENB)


12 Februari 2020
1 Korintus 2:1-12
HIKMAT ALLAH YANG “MEMULIAKAN” MANUSIA


Penjelasan Bahan

Belakangan ini beredar sebuah Video di salah satu gereja tentang bagaimana sebuah gereja saat sedang khotbah terjadi sebuah kericuhan. Kericuhan ini bukan terjadi dari masyarakat sekitar yang menentang adanya sebuah gereja bercokol di tempat itu, melainkan dari jemaat itu sendiri. Dari beberapa sumber berita mengatakan bahwa gereja itu diindikasi ada penggelapan uang pembangunan gedung gereja. Pendeta tersebut menolak dengan tegas apa yang menjadi tudingan orang-orang tersebut, sehingga terjadilah perpecahan. Sangat miris memang, gereja terpecah bukan karena orang luar yang berusaha merusak, tetapi dari dalam tubuh itu sendiri ada upaya untuk merusaknya.
Perpecahan seperti ini juga pernah terjadi pada bacaan kali ini. Paulus dalam suratnya kali ini mencoba melihat permasalahan yang terjadi pada jemaat ini, yaitu mereka saling mengklaim bahwa yang satu lebih berhikmat dari pada yang lain. Karena hal itu, Paulus dalam ayat keempat dan kelima berkata, ”Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi hikmat Allah.”

Perpecahan yang terjadi bukan karena ada yang lebih berhikmat dari yang lain, tetapi justru mereka mengklaim hikmat yang dimiliki itu membuat mereka lebih dekat dengan Allah yang kemudian membuat orang yang berhikmat memandang orang yang tidak berhikmat karena diklaim jauh dari Allah. Hikmat itu seharusnya membawa manusia semakin memuliakan Allah. Dengan hikmat itu, seharusnya mereka lebih bisa memanusiakan manusia, dibanding dengan orang-orang yang belum menerima hikmat tersebut, atau orang yang memiliki hikmat yang berbeda. Inilah yang membuat perpecahan terjadi karena mereka lebih mengandalkan hikmat pengetahuan mereka sendiri, tanpa melibatkan Allah di dalamnya.
Sekarang ini, sangat sulit untuk mengetahui hikmat yang Allah berikan. Lebih mudah zaman dahulu ketika Allah memberikan hikmat kepada Musa melalui semak, tiang awan dan api, dan juga malaikat. Orang sudah sangat skeptis karena semua sudah dianggap sebagai anomali[5] tanpa membuat kita bisa berefleksi mengenai apa yang sudah Allah berikan bagi kita untuk dapat berhikmat dalam hidup.
Lalu sekarang, kita sudah memiliki hikmat yang berbeda dari Allah sehingga terjadi beraneka ragam. Tugas kita adalah membuat hikmat yang dari Allah itu bisa semakin memuliakan Allah melalui setiap tindakan yang kita lakukan. Pilihan kita adalah maukah kita menggunakan dan mengandalkan hikmat Allah yang sangat sulit? Hal ini sangat sulit karena ketika kita mau menggunakan hikmat dari Allah, kita diajak untuk mengundang Allah juga untuk masuk ke dalam hidup kita. Dan itu sangat menyulitkan karena dibutuhkan keseriusan untuk mendengar apa yang Allah inginkan. Atau kita hanya berpatokan kepada intuisi kita yang berarti mengandalkan hikmat manusia. Pilihan ada di tangan kita.


Untuk didiskusikan:
1. Mengapa manusia sulit untuk menggunakan hikmat yang Allah berikan?
2. Bagaimana cara kita untuk semakin mendekatkan diri dengan Allah agar bisa menggunakan hikmat dari Allah dengan baik? (THC)

19 Februari 2020
I Korintus 3:1-9
KASIH YANG MEMPERSATUKAN


Penjelasan Bahan

Seorang filsuf bernama Sokrates pernah mengatakan, “Aku tidak tahu, tapi aku tahu, bahwa aku tidak tahu”. Perkataan Sokrates ini terlontar saat orang-orang di zamannya sedang sibuk menyombongkan ilmu dan kebijaksanaan yang dimilikinya. Banyak orang merasa memiliki sophia (kebijaksanaan) tetapi kebijaksanaan yang disebut-sebut itu tidak memberikan dampak apa-apa selain perdebatan, iri hati, dan keangkuhan. Oleh sebab itu, Sokrates lebih memilih mengakui bahwa dia tidak tahu apa-apa sehingga ia akan terus belajar dan belajar mengenai kebijaksanaan serta mengimplementasikannya.
Bicara tentang pertumbuhan kualitas iman, tentu berkaitan dengan pemahaman dan implementasi hidup keagamaan. Peribahasa mengatakan, “Seperti padi, semakin berisi semakin merunduk”. Orang yang semakin bertumbuh akan menyadari bahwa ia tidak akan menjadi orang yang angkuh; apalagi bertengkar karena keangkuhannya. Hal seperti yang dialami Sokrates, dialami juga oleh Jemaat Korintus. Paulus geram melihat Jemaat yang dibinanya justru sibuk bertengkar tentang sosok manusia yang menjadi ‘alat’ pemberita Injil-Nya. Jemaat terpecah karena persaingan, keangkuhan, dan iri hati. Ada yang sedang mengunggulkan Paulus, ada yang mengunggulkan Apolos dengan segala argumentasi kebanggaannya. Masing-masing pihak merasa sudah lebih hebat, lebih dewasa, dan lebih baik dibanding yang lain.

Betapa sedihnya Paulus melihat pertengkaran itu, karena umat sudah salah kaprah dalam memahami dan mengimplementasikan pemahaman ajaran Kristus yang mereka terima. Oleh sebab itu, dengan nada kecewa dan marah, Paulus berani dengan eksplisit menyebut bahwa jemaat di Korintus masih manusia duniawi—yang belum dewasa dalam Kristus (ayat 1). Paulus menyindir dengan mengatakan bahwa Paulus masih memberikan mereka susu sebagai makanan—dan bukan makanan keras; yang bahkan susu pun masih sulit dicerna. Indikatornya sederhana, yaitu mereka masih sibuk bertengkar untuk sesuatu yang tidak ada faedahnya. Energi besar yang mereka miliki seharusnya bisa dipergunakan untuk semakin memperkukuh relasi, bukan justru menghancurkannya. Alih-alih bertumbuh karena banyaknya pelayan Tuhan, Jemaat justru terjebak pada pertengkaran karena ‘favoritisme’. Betapa rendahnya kualitas rohani yang seperti itu. Jangankan menghadapi tantangan eksternal, jika untuk membangun kekuatan internal pun masih dibelenggu oleh keangkuhan.

Paulus mengingatkan esensi pertumbuhan iman Kristen, yakni dengan memusatkan hati dan pikiran kepada Kristus. Kristus sendiri hadir sebagai wujud kasih Allah yang begitu besar (lihat Yohanes 3:16; I Yohanes 4:7-8). Hidup dalam perselisihan berarti belum benar-benar mengerti dan memahami makna kehadiran Allah dalam sosok Yesus Kristus. Iri hati dan perselisihan dilekatkan pada manusia duniawi atau hidup secara manusiawi (kedagingan). Dalam terjemahan lain disebutkan sebagai “manusia yang belum diperbarui”. Maka, hidup baru di dalam Kristus adalah dengan hidup mengasihi secara utuh. Bentuk mengasihi yang paling sederhana adalah membuang jauh iri hati, mengalahkan keangkuhan diri, serta menjadi pendamai, bukan pemecah-belah dan hidup rukun dengan semua orang.

[1] Catatan editor: banyak literatur lain menjelaskan bahwa “semua orang kudus” (ayat 5) dan “hati orang-orang kudus yang telah kauhiburkan” (ayat 7) menunjuk pada jemaat di Kolose yang adalah sebuah kota kecil di Provinsi Frigia. Galatia sendiri adalah sebuah nama Provinsi lain yang berdekatan dengan Provinsi Frigia.
[2] V.C. Pfitzner, Kesatuan dalam Kepelbagaian: ulasan atas 1 Korintus, Jakarta: Gunung Mulia, 2008, 27.
[3]Ibid., 25.
[4] Ibid, 26., dan dalam Alkitab terjemahan New King James Version, “sehati” diterjemahkan menjadi in the same mind, sedangkan “sepikir” diterjemahkan menjadi in the same judgement.
[5] Anomali menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (versi daring/online): tidak seperti yang pernah ada; penyimpangan dari yang sudah ada, penyimpangan atau kelainan, dipandang dari sudut konvensi gramatikal atau semantis suatu bahasa, penyimpangan dari keseragaman sifat fisik, sering menjadi perhatian eksplorasi (editor)

KRT-04-Sep | KRT-11-Sep | KRT-18-Sep | KRT-25-Sep | KRT-02-Oct | KRT-09-Oct | KRT-16-Oct | KRT-23-Oct | KRT-30-Oct | KRT-06-Nov | KRT-13-Nov | KRT-20-Nov | KRT-27-Nov | KRT-04-Dec | KRT-11-Dec | KRT-18-Dec | KRT-08-Jan | KRT-15-Jan | KRT-22-Jan | KRT-29-Jan | KRT-05-Feb | KRT-12-Feb | KRT-19-Feb |