Coret-coretanku...... by R T Gultom ( gultom125@gmail )

Skip to navigation


6 Maret 2019 (Rabu Abu)

Lukas 9:37-43a

Hidup Yang Memuliakan Nama-Nya

“Maka takjublah semua orang itu karena kebesaran Allah.”
(Lukas 9:43a)
Penjelasan Bahan
Injil Lukas menuliskan rangkaian kisah perjalanan dan pelayanan Yesus sebagai Anak Manusia kepada para pembacanya yang sedang berada dalam suatu krisis iman. Menjelang akhir abad pertama, umat Kristen pada masa itu merupakan komunitas minoritas yang tidak selalu disenangi oleh masyarakat di sekitarnya. Tidak jarang pihak yang tidak menyukai mereka menyebarluaskan berbagai desas-desus di tengah masyarakat untuk mengambinghitamkan orang-orang Kristen. Bahkan kaisar Nero (sekitar tahun 64 M) memanfaatkan suasana itu untuk menganiaya umat Kristen di Roma, karena umat Kristen tidak mematuhi perintah Nero untuk menyembahnya sebagai Dewa (wakil Tuhan). Umat Kristen pada saat itu sangat berharap Kerajaan Allah segera datang. Situasi politik saat itu semakin membuat umat Kristen merasa tertekan dan kurang aman, iman mereka mudah kendor/lesu, lemah, dan tergoncang.
Pasal 9 ayat 37-43a ini adalah kisah yang hendak menegaskan tentang sejatinya Yesus sebagai Mesias, Anak Allah, di hadapan para murid. Karya-Nya di Galilea adalah suatu penguatan iman pagi para murid agar percaya sepenuhnya kepada Yesus, sebagai Mesias yang datang dari Allah Bapa. Berbeda dengan kemuliaan Musa dan Elia, kemuliaan Yesus sebagai Mesias akan diperoleh-Nya melalui jalan penderitaan (9:22-36).
Nampaknya, para murid belum percaya sepenuhnya pada Yesus. Ketika mereka dipilih dan diberikan tenaga dan kuasa untuk menguasai setan-setan dan menyembuhkan penyakit (9:1), mereka hanya sanggup melakukan kuasa penyembuhan (9:6). Mereka gagal melakukan pengusiran setan (9:40). Kegagalan itu dijelaskan oleh Yesus sebagai bentuk ketidakpercayaan para murid, dan bukan hanya kepada mereka saja teguran keras itu disampaikan, tetapi juga kepada para pendengar pengajaran-Nya melalui sebutan “angkatan yang tidak percaya dan sesat” (9:41). Para murid sudah mencoba mengusir roh yang merasuki anak tersebut, tetapi tidak dapat (berhasil), karena mereka ter- “sesat” pada pemikiran mereka tentang kuasa yang Yesus berikan kepada mereka. Kekuatan yang Yesus berikan untuk menguasai roh jahat (dan menyembuhkan yang sakit) haruslah bersumber dari kerendahan hati untuk siap menderita sebagai hamba, bukan bersumber dari kesombongan diri.
Tekanan sosial dan persoalan kehidupan yang dihadapi seringkali membuat iman umat Kristen mudah goyah, lemah sehingga seringkali menyeret pola pikir umat Kristen pada ketersesatan cara memahami karya kuasa Tuhan. Sebagai Anak Allah, Yesus membuat takjub semua orang yang menyaksikan apa yang diperbuat-Nya. Perbuatan Yesus itulah yang menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya kita hidup, yaitu untuk memuliakan nama Allah. Hal lain yang ditekankan pada kisah ini adalah sikap percaya yang benar dan sikap kerendahan hati dalam berkarya, bukan sikap sombong/memuliakan diri. Kegagalan para murid dalam berkarya disebabkan karena iman mereka lemah untuk meyakini bahwa kuasa yang mereka terima melalui Yesus adalah kuasa yang tidak hanya dapat memulihkan persoalan jasmani (sakit) tetapi juga persoalan rohani. Andaikan pun mereka percaya bahwa kuasa yang mereka terima dapat mengusir roh jahat, mereka melakukannya dengan berharap imbalan pujian/dimuliakan. Sesungguhnya sikap seperti itulah yang menistakan iman Kristen.
Kerapuhan dan kelemahan sebagai manusia seringkali menghambat kita untuk memahami bagaimana cara kita hidup untuk memuliakan nama Allah. Percaya pada Yesus sebagai Anak Allah saja tidaklah cukup untuk menghadirkan kuasa pemulihan-Nya di tengah hidup kita. Dibutuhkan aksi nyata yang lahir dari kepekaan sosial dan kerendahan hati ketika melihat penderitaan sesama (lht. ayat 38, ayah yang mengasihi anak satu-satunya). Kita tercipta dari debu, namun kita telah dipilih dan diberikan kuasa untuk menjadi mitra Allah demi menghadirkan karya-Nya yang memulihkan kehidupan. Namun tidak jarang, debu yang hina bangkit menjadi batu karang yang angkuh dan berharap kemuliaan duniawi. Maka awal dari suatu perubahan hidup yang memuliakan nama-Nya adalah pertobatan, introspeksi diri terutama dalam cara berpikir/cara pandang
terhadap rancangan Allah bagi umat-Nya. Sudah saatnya gereja memulai suatu karya yang menakjubkan, yang didasari oleh sikap percaya sepenuhnya pada rancangan Allah, bukan rancangan-rancangan yang penuh ambisi untuk sekedar kebutuhan akan kemuliaan diri dan pengakuan sosial sebagai komunitas Kristen. Dengan tanda abu di dahi, menjadi simbol kesediaan diri kita untuk mengendalikan arah berpikir kita yang mudah sekali disesatkan oleh hikmat dan nikmat dunia. Kembalikan seluruh karya pelayanan gereja kepada tujuannya semula, yakni membuat orang takjub sehingga pada akhirnya memuliakan nama-Nya.


Pokok pikiran
1. Allah tahu bahwa kita diciptakan dari debu yang memiliki kecenderungan diri rapuh; iman kita mudah tergoyahkan oleh berbagai cobaan dan pergumulan hidup.
2. Namun melalui karya Yesus, Allah telah memilih dan menguduskan kita serta memberikan kita kuasa untuk berkarya secara menakjubkan sebagai mitra-Nya di tengah dunia ini.
3. Untuk menjalankan tugas kita sebagai gereja, dibutuhkan pertobatan hati dan pikiran, yakni menjauhkan diri dari ambisi memuliakan diri.
4. Yang harus dimuliakan adalah nama-Nya. Hal itu dapat dinyatakan melalui sikap kerendahan hati dan kepekaan pada persoalan sosial yang terjadi di sekitar kita. (MRA)

13-Mar-19

Roma 10:8b-13

Yesus Kekuatanku

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.”
(Roma 10:9)
“Engkaulah kekuatanku, tempat perlindunganku. Walau badai menerpa, aku tak akan goyah, s’bab Kau sertaku.” Penggalan lagu ini mungkin sudah akrab di telinga kita. Lagu yang menyapa dan mengingatkan kembali kita akan Allah di dalam Yesus Kristus yang selalu ada bersama kita. Tuhan-lah kekuatan dan tempat perlindungan di tengah badai kehidupan. Lagu ini adalah ungkapan pernyataan iman, sebuah kredo yang kita dengar dan kidungkan.
Dalam surat Roma, Rasul Paulus juga mengingatkan jemaat-jemaat di pusat dunia waktu itu akan sentralitas iman Kristen. Sentralitas iman Kristen itu berporos pada Yesus Kristus. Di dalam diri-Nya manusia dapat mengenal Allah. Tanpa Dia, Allah menjadi kemustahilan bagi manusia. Karena itu, manusia hanya mungkin untuk datang kepada Allah di dalam dan melalui Yesus Kristus. Respon manusia kepada Allah yang menyatakan diri di dalam Yesus Kristus itu disebut sebagai iman. Iman kepada Allah di dalam Yesus Kristus mengantar manusia kepada kehidupan yang berarti.
Berhadapan dengan situasi penganiayaan yang dialami oleh orang Kristen di Roma pada waktu itu, Paulus bermaksud untuk meneguhkan iman dan pengharapan mereka di dalam Kristus. Bagi Paulus, sudah memiliki Kristus berarti jemaat di sana sudah memiliki apa yang paling berarti. Dialah kekuatan bagi jemaat di tengah penindasan. Bahkan, Paulus dengan jelas dan lugas berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan… sebab barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.”
Kehidupan yang sementara kita jalani saat ini mungkin berbeda situasi dan kondisi dengan jemaat di Roma. Akan tetapi, yang namanya cobaan, masalah, tantangan, bahkan ancaman, kita pun mengalaminya. Latar belakang dan sebabnya bisa berbeda satu dengan yang lain. Namun, di dalam berbagai kenyataan itu kita membutuhkan satu hal yang sama, yakni kekuatan agar kita bisa bertahan, berjalan, melewati dan menang atas cobaan, masalah, tantangan, dan ancaman.
Dari Rasul Paulus kita mengetahui kekuatan sejati kita. Bukan harta, bukan jabatan, bukan kekuasaan, bukan koneksi, tetapi Yesus Kristus. Dialah kekuatan dan perlindungan. Dahulu Ia ada bagi jemaat Roma, membela martabat dan menyelamatkan mereka. Kini, dan untuk seterusnya, Ia pun ada bersama dengan kita. Karena itu, ketika kita berhadapan dengan berbagai cobaan dalam kehidupan, kita hanya perlu datang kepada Tuhan, berserah dan mengandalkan Dia, seraya bertanya: “Tuhan inginkan apa ketika Ia mengijinkan sesuatu yang mungkin sulit untuk kita hadapi?” Belajarlah untuk bersabar di dalam pencobaan dan mintalah hikmat dari-Nya agar kita bisa melewati godaan dan terus bertumbuh di dalam iman.


Untuk didiskusikan:
1. Adakah sesuatu masalah yang pernah Saudara alami yang membuat Saudara merasa sangat malu? Bagaimana Saudara mengatasi rasa malu dan keluar dari masalah tersebut?
2. Kehilangan apa yang paling Saudara takutkan saat ini (jabatan, karir, harta, keluarga)? Mengapa? Setelah membaca Alkitab dan renungan ini, apa yang akan Saudara lakukan? (HAP)

20-Mar-19

Filipi 3:17 – 4:1

Kesungguhan Mengikut Yesus

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,”
(Filipi 3:10)
Kisah perubahan hidup Paulus, yang semula bernama Saulus, berawal dari perjumpaannya dengan Tuhan Yesus ketika ia dalam perjalanan ke Damsyik. Kemuliaan Tuhan menghampirinya melalui cahaya yang terpancar dari langit dan mengelilinginya. Peristiwa itu membuatnya merasakan kuasa Tuhan Yesus. Saulus yang sebelumnya berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan, kini dipilih Tuhan untuk memberitakan nama Yesus. Untuk mengetahui apa yang menjadi rencana Tuhan baginya, Paulus pun mengikuti segala perkataan Tuhan Yesus –ia pergi ke tempat yang ditunjukkan-Nya, yaitu ke Damsyik. Perjalanannya menuju Damsyik bukanlah perjalanan yang mudah karena tiga hari ia tidak dapat melihat serta tidak makan dan minum. Namun, pengalaman itu barulah permulaan bagi Saulus mengikut Yesus. Seperti perkataan Yesus kepada Ananias, Ia sendiri akan menunjukkan kepada Saulus, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Nya.
Pada masa awal pelayanan Paulus, banyak pengikut Yesus termasuk para murid yang meragukan pertobatannya. Bagi mereka, bagaimana mungkin Paulus yang dulunya begitu kejam terhadap pengikut-pengikut Yesus berubah menjadi pemberita Injil yang mengajarkan bahwa Yesus adalah Mesias. Sepertinya masa lalu Paulus yang kejam dan jahat dipandang sebagai suatu hal yang memberatkannya untuk diterima sebagai bagian dari komunitas pengikut Yesus. Sebagian dari mereka takut kepadanya. Namun demikian, Paulus membuktikan bahwa ia layak untuk menjadi murid Yesus sekaligus pemberita Injil-Nya. Ia mengajar dalam nama Tuhan dengan berani. Ia membuktikan pertobatannya adalah sungguh-sungguh. Dengan teguh ia berjuang menghadapi berbagai tantangan bahkan penderitaan dalam memberitakan Injil Kristus. Pada akhirnya apa yang dilakukan Paulus memberi teladan bagi saudara-saudara seiman sehingga mereka bertambah berani berkata-kata tentang firman Tuhan dengan tidak takut.
Dalam surat Filipi 3:17, Rasul Paulus mengajak jemaat di Filipi untuk mengikuti teladannya. Hal itu bukan tanpa maksud diucapkannya. Bukan juga karena ia hendak menyombongkan dirinya dan merasa sempurna (3:12), mengingat pada saat itu ada banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Yesus. Ia tidak ingin jemaat di Filipi tidak menaruh kepercayaannya dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan – melainkan kepada hal-hal yang lahiriah. Perkara-perkara duniawi atau lahiriah seringkali menjadi penghambat seseorang untuk hidup setia kepada Tuhan. Kata Paulus “Kesudahan mereka adalah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.” (ay. 19). Paulus memberi contoh dirinya sendiri, bahwa hidupnya sebelum mengenal Tuhan Yesus begitu menggambarkan hidup yang menaruh percaya kepada hal-hal lahiriah, yaitu, “disunat pada hari ke delapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.” (psl. 3:5-6). Namun demikian, apa yang dahulu baginya menguntungkan ditinggalkannya demi Kristus. Baginya pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhan, lebih mulia daripada semuanya (psl. 3: 7-8). Apa yang menurut cara pandang dunia adalah kebinasaan baginya merupakan keselamatan – hadiah akhir dari tujuan mengikut Kristus, di mana “Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya”. Itulah yang mengubah kehidupan Paulus menjadi pengikut Yesus. Bagi Rasul Paulus hidup orang-orang percaya adalah memuliakan Kristus. Hidup memuliakan Yesus mungkin ketika hidup kita berpadanan dengan Injil Kristus. Bagi Paulus, jemaat di Filipi merupakan sukacitanya dan mahkotanya, yang menggambarkan tentang bagaimana kesetiaan mereka kepada Tuhan Yesus dan kegigihan mereka dalam melakukan pekerjaan yang baik.
Sebagai orang percaya, banyak orang yang bersedia dan mengaku sebagai murid Yesus. Akan tetapi, tak jarang ada pula di antara mereka yang tidak menjalankan hidupnya dengan sungguh-sungguh sebagai orang percaya. Di satu sisi mereka menginginkan hak-haknya sebagai pengikut Yesus, di sisi lain tidak bersedia menanggung penderitaan demi nama-Nya. Pertobatannya hanyalah sementara. Tujuan hidupnya adalah kepentingannya sendiri. Alih-alih memancarkan terang yang berdampak baik kepada sesama, hidupnya malah ditujukan hanya demi harta dunia – lupa dengan Tuhan yang menjadi sumber berkat dalam hidupnya. Bila derita mendera, sungut-sungut dan mengeluh menjadi andalannya. Melalui renungan ini kita diingatkan tentang makna kehadiran terang Kristus di dalam hidup kita – yang mengubah hidup kita menjadi berkenan dan mulia di dalam Tuhan Yesus; perubahan yang membuat kita berani untuk menyatakan kebenaran Injil Kristus di dalam segala kondisi hidup kita. Kita diingatkan untuk senantiasa menjaga hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya sampai akhir hidup kita – dan memperoleh mahkota kemuliaan-Nya.

Untuk didiskusikan:
1. Bagaimanakah keteladanan yang dicontohkan Rasul Paulus dalam menghadapi penderitaan dan berbagai perkara hidup yang melanda bagi kita sebagai orang-orang percaya?
2. Apakah perbuatan-perbuatan yang dapat menggambarkan kesungguh-sungguhan seseorang dalam mengikut Tuhan Yesus?
3. Ceritakanlah pengalaman perjuangan Saudara dalam memberitakan Injil! (HKD)

27-Mar-19

1 Korintus 10:1-13

Belajar dari Proses Pertobatan Israel

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”
(1 Korintus 13:10)
Kisah perjalanan Israel kurang lebih 40 tahun di padang gurun setelah keluar dari tanah Mesir merupakan kisah legendaris bangsa Israel dan akan terus dikenang dan diimani sebagai karya Allah di dalam diri mereka. Rasul Paulus pun merefleksikan kisah itu dalam konteksnya. Bagi Paulus, perjalanan Israel selama 40 tahun itu adalah perjalanan pertobatan dan pemurnian. Selama 40 tahun mereka mengalami berbagai peristiwa yang menguji ketangguhan dan kesetiaan mereka kepada Allah yang membawa mereka keluar dari Mesir. Banyak orang Israel yang gagal dalam perjalanan itu. Paulus menunjukkan berbagai peristiwa tentang kegagalan orang-orang itu.
Nah, perjalanan Israel itu direfleksikan oleh Paulus untuk jemaat Korintus. Perjalanan hidup jemaat Korintus adalah sebuah proses pertobatan karena mereka sekarang sudah hidup bersama dengan Kristus. Namun situasi dan keadaan kota Korintus sendiri berpotensi menggoyahkan dan menghambat proses pertobatan itu. Korintus adalah kota besar dengan berbagai pemahaman, agama, dan budaya yang bisa jadi berbeda dengan ajaran kekristenan. Karena itulah Paulus menjadikan perjalanan Israel di padang gurun sebagai peringatan sekaligus contoh bagi jemaat Korintus.
Bagaimana dengan kita? Hidup kita pun adalah sebuah proses pertobatan. Di sana sini, tantangan dan kesulitan menghadang. Terkadang mungkin kita gagal, namun dalam kegagalan itu selalu ada tangan yang membantu kita untuk bangkit dan mengajak berjalan kembali. Untuk itu tetap teguh dalam proses itu menjadi hal yang penting dan utama. Kristus menyertai kita dalam proses pertobatan itu.


Untuk didiskusikan:
1. Situasi apa saja yang potensial menghambat proses pertobatan kita?
2. Bagaimana kita mencoba mengelola situasi tersebut? (WSW)

03-Apr-19

2 Korintus 5:16-21

Merangkul Yang Terbuang

“Kami memberitakan bahwa dengan perantaraan Yesus Kristus, Allah membuat manusia berbaik kembali dengan diriNya. Allah melakukan itu tanpa menuntut kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan manusia terhadap diriNya. Dan kami sudah ditugaskan Allah untuk memberitakan kabar itu.”
(2 Korintus 5:19, [BIS])
Suatu hari Eko melangkah menyusuri salah satu jalan di kota yang terkenal ramah. Di sepanjang jalan tersebut ada banyak orang-orang yang sengaja berjalan kaki dan banyak pedagang yang menyajikan makanan khas kota tersebut. Beberapa orang terlihat menikmati jajanan-jajanan khas dan suasana keramahan kota tersebut. Sepertinya keramahan itu menular kepada para wisatawan. Orang-orang saling menyapa dan bercakap satu dengan yang lain seperti sudah kenal lama, padahal baru berkenalan di saat itu. Pada salah satu sudut jalan terlihat seorang bapak yang dianggap tidak waras, berpakaian kumal dan dekil, serta rambut yang acak-acakan. Eko bertanya-tanya dalam hati, “Siapakah keluarga bapak itu? Sepertinya ia sudah terbuang dari keluarnya. Tetapi mengapa keluarganya begitu tega? Bukankah ketika bapak masih bayi, ia sangat lucu dan disenangi keluarganya?” Eko tidak tahu jawaban dari semua pertanyaannya. Yang pasti, bapak itu seorang diri, terlantar, dan mungkin sudah terbuang dari keluarganya. Kalau saja Yesus muncul di jalan tersebut dan melihat bapak itu, pasti Yesus telah melakukan sesuatu kepada orang yang telah terbuang ini. Bagaimana dengan saudara?
Ada orang-orang yang terbuang dari keluarganya, komunitasnya, termasuk dari gerejanya. Alasannya karena mereka dicap sebagai pendosa, kotor, tidak layak bergabung, tidak layak ditemani, pernah melakukan kesalahan dan dianggap aib yang telah memalukan komunitas. Tetapi berbeda dengan Yesus, Ia tidak pernah membuang orang-orang yang telah berbuat dosa. Ajaran Paulus kepada jemaat di Korintus dalam perikop yang kita baca, menjadi ajaran yang indah untuk kita simak dan pelajari.
Pertama, penilaian menurut ukuran manusia berbeda dengan Allah (ay.16). Kita tahu Paulus selalu bergairah menceritakan karya penyelamatan Kristus terhadap dirinya. Ia telah mengalami sendiri bagaimana Yesus telah menyelamatkan dan mengubah kehidupannya menjadi manusia baru. Paulus yang semula menilai orang menurut ukuran manusia, kini tidak lagi. Maka dari itu Paulus mengingatkan kepada jemaat di Korintus untuk tidak terjebak pada penilaian menurut ukuran manusia. Menurut ukuran manusia, seseorang mungkin dinilai tidak layak bergabung, tetapi bagi Allah ia layak diterima. Bagi manusia, seseorang pantas terbuang dari komunitasnya, tetapi bagi Allah ia tidak pantas menjadi yang terbuang. Sering kali penilaian menurut ukuran manusia berbeda dengan ukuran Allah. Inilah yang perlu kita pelajari bahwa segala penilaiaan Allah itu berdasarkan atas kasih-Nya yang begitu besar terhadap setiap pribadi manusia.
Kedua, semua manusia itu berdosa, dan dosa tersebut telah merusak relasi manusia dengan Allah. Tetapi melalui pengorbanan Yesus Kristus, dosa manusia ditebus dan relasi antara manusia dengan Allah dipulihkan. Melalui pengorbanan Yesus Kristus, Allah memperbarui kita semua menjadi lebih baik. Allah melakukannya tanpa menuntut kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat (ay. 19). Kita yang berdosa ini diampuni hanya karena kasih Allah yang begitu besar, Allah tidak membuang kita. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk bersombong diri di hadapan mereka yang ingin bertobat kepada Allah. Kristus tidak berdosa, tetapi Ia mau menanggung pelanggaran manusia. Lagi-lagi ini karena kasih-Nya. Kasih Allah inilah yang patut kita jadikan dasar dalam bersikap terhadap sesama. Ketika kita tidak setia, Tuhan tetap setia. KesetiaanNya tidak dapat terganggu oleh ketidaksetiaan kita. Kasih-Nya tidak terhenti karena pelanggaran kita. Kesadaran akan hal ini akan mendorong kita bersikap rendah hati dan mawas diri sehingga kita bersedia merangkul mereka yang datang bertobat kepada Allah.


Untuk didiskusikan:
1. Sikap/tindakan apa saja yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa gereja (kita) “membuang” orang-orang tertentu? Apa alasan gereja/kita “membuang” mereka?
2. Bukti apa yang bisa kita lakukan untuk menerima dan merangkul mereka yang bertobat kepada Allah? (ENB)

10-Apr-19

Filipi 3: 4b- 14

Menanggalkan Kebanggaan dan Kehormatan Diri demi Mengikut Yesus

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”
(Filipi 3:13-14)
Setiap manusia tentu memiliki hal-hal yang dijadikan kebanggaan dalam diri dan kehidupannya, antara lain: keluarga, pasangan hidup, teman, kebahagiaan, jabatan, kuasa, pendidikan, karir, kehormatan, keturunan, dan lain sebagainya. Memang semua itu Tuhan hadirkan untuk menopang kita menjalani kehidupan sebagai manusia yang semakin berkenan di hadapan-Nya. Namun kita harus mengakui bahwa seringkali yang terjadi, hal-hal yang bersifat sekunder tersebut justru menjadi penghambat kita semakin dekat dengan Allah di dalam Kristus Yesus. Kebanyakan dari kita lebih memilih menggerakkan semua daya kekuatan kita hanya untuk meraih semua hal tersebut dan buruknya kita mulai menafikan relasi kita dengan Tuhan dan sesama kita. Padahal dalam iman, kita diajarkan bahwa sesungguhnya relasi perjumpaan kita dengan Tuhan dan sesama menjadi hal bernilai dan mulia.
Filipi 3:4b–14 mengajak kita belajar beberapa hal yang Rasul Paulus ungkapkan kepada Jemaat Kristen di Kota Filipi dan juga kepada kita, sebagai pembaca di masa kini. Paulus melihat bahwa pada saat itu, ada orang-orang Yahudi sejak lahir yang selalu merasa diri mereka jauh lebih baik daripada orang lain. Paulus berefleksi bahwa ia pun adalah seorang Yahudi sejak lahir yang memiliki hak yang sama dengan mereka, namun ketika ia mengenal Kristus ia tidak menyombongkan diri karena identitas dirinya sebagai seorang Yahudi. Paulus sebagai seorang Yahudi selalu mentaati hukum taurat tanpa cacat cela tetapi semua berubah ketika ia berjumpa dengan Yesus dalam perjalanannya ke Damaskus. Bahkan dalam refleksi iman yang ia bagikan kepada jemaat di Filipi, ia mengatakan bahwa semua kebanggaan dan kehormatan yang ia miliki dalam kehidupannya sebelum mengenal Kristus adalah hal-hal yang merugikan dan ia anggap sebagai sampah, kecuali perjumpaan imannya dengan Kristus.
Mengapa Kristus menjadi hal yang paling bernilai dan berharga bagi Paulus di atas segalanya? Hal ini karena Paulus meyakini benar dalam Kristus, ia tidak dibenarkan karena upaya mentaati hukum taurat, melainkan karena iman dan kepercayaannya kepada Kristus atau yang dikenal dengan istilah keselamatan karena iman yang dianugerahkan kepadanya. Paulus sungguh percaya ia dibenarkan bukan karena pengetahuan yang ia miliki tetapi karena Kristus memilihnya untuk percaya kepada-Nya. Oleh sebab itu, Paulus selalu ingin belajar mengenal Kristus dan turut menderita bersama-Nya karena baginya melalui penderitaan dan kebangkitan, ia akan memperoleh kemenangan bersama Kristus. Dari Paulus, kita belajar bahwa dahulu mungkin ia menganggap telah mengalami hal-hal yang terbaik dalam hidupnya, tetapi sesudah ia berjumpa dengan Kristus, semua yang ia pandang sebagai hal yang terbaik itu kini dipandang sebagai sampah semata yang mau tidak mau harus ia lepas atau buang demi ketaatan kepada Kristus karena ia telah memperoleh yang terbaik dalam hidupnya, yakni perjumpaan dengan Kristus yang membuahkan keselamatan di dalam Kristus.


Untuk didiskusikan:
1. Setiap kita selalu punya kecenderungan untuk mengejar hal –hal yang paling penting dalam kehidupannya, apakah memang kita perlu bahkan harus menanggalkan kebanggaan dan kehormatan diri demi tetap setia mengikut Yesus? Bagaimana cara kita menanggalkan hal itu sementara kita masih hidup di dunia yang selalu menempatkan kita pada sebuah standar tanpa kebanggaan dan kehormatan maka kita akan ditinggalkan?
2. Dalam realita hidup sehari-hari, ada banyak di antara kita yang begitu sulit melepaskan kebanggaan dan kehormatan di masa lalu sehingga mereka menjadi orang-orang yang gagal bergerak maju/ move on untuk mengikut Yesus. Mereka lebih senang mengisi kehidupan dengan romantisme masa lalu yang salah kaprah dan sia-sia sehingga Kristus tidak menjadi prioritas dan perjumpaan dengan Kristus hanya sekadar menjadi formalitas tanpa makna. Bagaimana pandangan saudara terhadap pernyataan ini? (ASR)

17-Apr-19

Filipi 2:5-11

Menghamba

“Dan dalam keadaan sebagai manusia, ia telah merendahkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”
(Filipi 2:7)
Mungkin kita pernah melihat film sosok manusia setengah dewa yang diangkat dari mitologi Yunani seperti Hercules dan Perseus. Mereka lahir sebagai manusia namun punya kekuatan dewa. Mereka melayani dan menghamba dalam masyarakat tapi kisah hidupnya penuh dengan aksi heroik. Konsep demigod atau manusia setengah dewa sangat berbeda dengan kehidupan Yesus. Yesus adalah inkarnasi Allah. Allah yang datang ke dunia dan merapuhkan diri-Nya dengan menjadi manusia seutuhnya, bukan manusia setengah dewa yang kebal dan punya kekuatan melampaui manusia biasa. Sebagai manusia, Allah dalam Yesus merasakan berbagai derita insani, mulai dari rasa haus dan lapar, duka dan sakit.
Di dunia, Allah dalam kemanusiaan-Nya memilih jatidiri yang paling rendah pada masanya, yakni seorang hamba. Kata hamba diterjemahkan dari kata doulos (yun.) yang berarti budak atau pelayan. Bentuk perbudakan yang paling umum dan luas pada masa itu adalah budak pelayan rumah dan budak negara. Dalam hal pertama budak-budak dibeli dan dipekerjakan sebagai lambang kemakmuran. Budak negara mengemban segala macam kewajiban karena tak ada pegawai negara, meliputi pekerjaan mengobati dan menjaga keamanan. Dia, Raja Semesta Alam, mau turun hingga ke level bawah untuk bersentuhan langsung dengan manusia yang terpinggirkan dan mendemonstrasikan kasih yang universal juga tak mengenal batas agar kita umat-Nya tidak bertahan dalam zona nyaman melainkan rela mengikuti jejak-Nya. Di dalam dan melalui Kristus, Allah juga menyatakan kritik bagi penguasa dan pemuka agama untuk tidak melanggengkan praktik perbudakan yang merusak kesetaraan martabat manusia.
Mari kita lihat ke sekeliling, apakah praktik serupa terjadi di sekitar kita. Apakah gereja sudah mengikuti jejak Kristus atau malah melanjutkan perbudakan dengan beragam bentuk dan cara yang mungkin berbeda dari konteks di mana Yesus hidup dan berkarya? Mari isi pekan suci ini dengan penghayatan mendalam akan perjalanan pengorbanan Yesus serta setiap jejak derita-Nya yang menggugat wajah kemanusiaan kita yang telah terlalu jauh meninggalkan gambar Allah yang Maha Kasih dan Maha Adil.


Untuk didiskusikan:
1. Bagaimana kita memaknai perihal “mengosongkan diri” dalam konteks keberadaan kita saat ni?
2. Apakah tantangan internal dan eksternal yang muncul atas panggilan untuk menghamba? (YWP)

24-Apr-19

I Korintus 15:19-26

Kemana Saya Pergi Setelah Mati?

“Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.”
(I Korintus 15:19)
Victor Hugo seorang penulis dari Perancis memiliki kata-kata terakhir yang dia ucapkan sebelum dia mati. Dia mengatakan “Lepaskan aku ke rumah Bapaku”. Dia mengandaikan bahwa setelah mati, dia akan menuju ke rumah Bapa di surga. Kata-kata terakhir sebelum mati yang terkenal lainnya adalah “Rasa dari kematian sudah di lidah saya, Saya merasakan sesuatu yang bukan dari dunia ini”. Kalimat tersebut dikatakan oleh tokoh bernama Wolfgang Amadeus Mozart, seorang komponis musik terkenal di masa lampau. Kalimatnya mengandaikan adanya suatu kehidupan lain setelah kematian. Kisah kedua tokoh tersebut sama-sama menjelaskan adanya suatu tempat atau situasi yang mereka yakini ada setelah kematian menghampiri mereka.
Kemana saya pergi setelah mati? Pertanyaan itu kerap dipikirkan oleh banyak orang yang mencari sebuah kepastian akan masa depan. Pertanyaan ini juga mulai bergejolak di Jemaat Korintus yang digoyahkan oleh pandangan yang tidak percaya akan adanya kebangkitan orang mati. Mati berarti selesai. Tentu hal itu membuat Paulus mengajak jemaat berpikir apalah artinya kehidupan kalau pengharapan pada Kristus hanya ada pada saat kita hidup saja? Tidak adakah lagi pengharapan sesudah kematian? Mengapa mengambil risiko (baca: martir) untuk Kristus atau beriman kepada-Nya bila pada akhirnya kita hanya menjadi bangkai yang busuk? Mengapa tidak sebaiknya kita mengikuti filsafat populer saat itu untuk “makan, minum, dan bersukacita” (ay. 32) saja dalam hidup ini? Paulus menjelaskan bahwa kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus pun tidak dibangkitkan (ay. 13). Tapi pada kenyataannya Kristus sudah bangkit dan banyak orang telah menyaksikannya.
Semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam (adam berarti juga umat manusia) karena upah dosa adalah maut, tetapi sebaliknya, dalam persekutuan dengan Kristus semua orang akan dihidupkan kembali. Kuasa maut telah Dia dipatahkan. Kesatuan dengan leluhur Adam telah digantikan dengan kesatuan bersama Kristus yang sudah bangkit. Paulus kemudian menjelaskan hubungan antara kebangkitan Kristus dan kebangkitan orang mati dengan menggambarkan bahwa kebangkitan Yesus adalah kebangkitan yang sulung (pertama) dari yang lainnya. Artinya setelah kebangkitan Kristus, kitalah yang akan dibangkitkan menurut waktunya masing-masing. Pada akhir masa kebangkitan itu, Kristus membinasakan segala pemerintahan atau kekuasaan dan kekuatan yang menentang kuasa-Nya. Musuh terakhir yang akan dibinasakan-Nya adalah maut. Maut digambarkan sebagai kuasa terakhir yang akan digulingkan. Kenapa yang terakhir? Karena maut adalah hasil terakhir yang ditimbulkan oleh kekuasaan segala bentuk kejahatan.
Saudara-saudara, keimanan akan kebangkitan orang mati atau kehidupan setelah kematian bukanlah untuk disadari justru di detik akhir menjelang kematian. Karena bila demikian, maka kesadaran itu tidak membawa dampak yang berarti. Dalam setiap pengakuan iman percaya yang sering kita ucapkan, kita menyertakan kepercayaan akan kebangkitan daging (orang mati). Kesadaran itu memberikan kita pengharapan untuk berkarya dalam hidup ini pada saat ini. Kebangkitan adalah suatu jaminan yang tidak perlu kita kuatirkan. Kita tidak perlu lagi memikirkan kemana kita pergi setelah mati. Yang perlu kita pikirkan adalah kemana kita pergi saat hidup. Apakah kita mengisi kehidupan ke tempat yang penuh dengan kesia-siaan ataukah kita pergi ke tempat dimana hidup kita dapat menjadi penuh arti bagi sesama? Kebangkitan Kristus dan iman kepada-Nya kiranya menggerakkan diri kita untuk memberi arti bagi hidup ini. Karena yang terpenting dari hidup bukanlah perihal bagaimana kita mati, tetapi bagaimana kita hidup.


Untuk didiskusikan:
1. Apakah makna kebangkitan Kristus bagi Saudara? Bagaimana Saudara memaknainya dalam kehidupan Saudara?
2. Berikanlah contoh yang menggambarkan hidup memberi arti bagi sesama! (JSM)

01-May-19

Yunus 4:1 – 11

Menerima dan Memahami Kasih Allah

“Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.”
(Yunus 4:2)
Mungkin kita pernah mendengar istilah SMS, bukan Short Message Service, tetapi Senang Melihat Susah; Susah Melihat Senang. Istilah ini tentu bukanlah istilah yang positif karena kita senang apabila orang lain sedang kesusahan, dan sebaliknya kita akan bersusah hati ketika melihat orang lain bahagia. Istilah ini mau mengingatkan kita bahwa seringkali kita bersikap seperti demikian.
Bacaan kita saat ini berkisah tentang Yunus yang marah kepada Tuhan. Ia tidak dapat menerima dan memahami kasih Allah kepada Niniwe. Yunus marah ketika Tuhan tidak jadi menghukum Niniwe, namun justru menyelamatkannya. Yunus berpikir bahwa Tuhan hanya mau mengasihi dan menyelamatkan orang-orang Israel saja dan tidak menghendaki pengampunan dan keselamatan bangsa-bangsa lain. Kemarahan itu tertulis di dalam ayat 2, saat ia menaikan doa kepada Tuhan, ia menyampaikan “unek-unek”-nya kepada Tuhan. Sebagai seorang yang diutus Tuhan, maka sikap Yunus sangat berbeda. Seharusnya ia bersyukur ketika Tuhan mau mengampuni dan menyelamatkan Niniwe. Kemarahan dan keputus-asaan membuat Yunus frustasi dan menganggap bahwa mati jauh lebih baik. Karena dengan kematian yang dialaminya, ia akan terbebas dari persoalan batin yang dirasakannya kini.
Yunus sama seperti kita yang punya pandangan SMS, di mana selalu memandang negatif pada suatu peristiwa yang terjadi tanpa merenungkannya. Kita dan Yunus harus belajar menerima dan memahami kasih Tuhan. Yunus tidak perlu marah kepada Tuhan, tetapi Tuhanlah yang seharusnya marah kepada Yunus. Karena ada kesalahan yang dilakukan oleh Yunus, yaitu ia melarikan diri ke Tarsis ketika Tuhan mengutusnya ke Niniwe. Yunus juga menyimpan amarah kepada orang-orang Niniwe karena Tuhan tidak jadi menghukum mereka. Seharusnya ia merenungkan mengapa Tuhan membatalkan penghukuman-Nya? Ketika Tuhan menaungi Yunus dengan pohon jarak yang ditumbuhkan-Nya (ay. 6), sekali lagi Tuhan melindungi Yunus, walaupun Yunus sangat marah. Yunus menjadi bersukacita, akan tetapi tidak ada rasa syukur sedikitpun kepada Tuhan atas perteduhan itu. Keesokan harinya pohon jarak itu mati oleh karena ulat. Sirnanya pohon jarak itu pun membuat Yunus marah kembali kepada Tuhan. Rasa sayang Yunus kepada pohon jarak itu sungguh berlebihan, perasaan ini bertolak belakang dengan perasaannya kepada orang-orang Niniwe. Kalau kepada pohon jarak itu Yunus bisa sayang, bukankah Tuhan lebih sayang kepada orang-orang Niniwe yang bertobat. Kepada mereka seharusnya Yunus memberitakan kembali kasih dan kebenaran Tuhan agar mereka tidak berbuat dosa lagi.
Di dalam kehidupan ini, hendaklah kita pun menerima dan memahami kasih Tuhan dengan tidak menaruh dendam dan iri hati terhadap kehidupan orang lain. Tuhan pun mengasihi kita dengan cara-Nya yang luar biasa dan tidak terselami oleh pikiran manusia. Kita dipanggil untuk percaya, taat, serta terbuka menerima ketetapan-Nya dan mengandalkan-Nya senantiasa.


Untuk didiskusikan:
1. Bagaimanakah cara saudara untuk dapat menerima dan memahami kasih Allah dalam kehidupan ini?
2. Apakah tantangan saudara ketika menerima dan memahami kasih Allah? (FPA)

08-May-19

Kisah Para Rasul 26:9-19

Menjadi Pelayan dan Saksi

“Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti” (Kis. 26:16b)
Paulus adalah seorang yang beragama. Ia didik oleh Gamaliel, seorang ahli Taurat tersohor (lht. Kis. 5:34). Sebagai seorang farisi, Paulus mengaku sebagai “seorang yang giat bekerja bagi Allah” (lht. Kis. 22:3) dan tidak bercacat dalam menaati hukum Taurat (Flp. 3:6). Dalam pandangannya, Paulus mungkin percaya bahwa ia sudah memenuhi apa yang Allah inginkan: pengetahuan agamanya lengkap dan penerapan ketentuan agamanya pun sempurna.
Kita dapat melihat Paulus, sebelum menjadi pemberita Injil, sebagai contoh sebagai seorang yang fanatik terhadap agamanya. Sikap fanatik seperti ini dapat mendorong seseorang menjadi seorang yang radikal dalam arti yang negatif. Ada banyak contoh yang buruk tentang akibat dari radikalisme agama. Yang terjadi di tengah manusia bukanlah kedamaian, ketenteraman, dan kesejahteraan. Sebaliknya, air mata, kekerasan, tangisan, ketertekanan itulah yang merebak. Agama digunakan untuk penyulut ketakutan, teror, dan kehancuran. Padahal mestinya agama menjadi sarana untuk menyebarkan damai dan memajukan peradaban.
Sebelumnya, Paulus melihat orang lain, terutama yang tidak sejalan dengannya, dengan kacamata kebencian. Mereka harus diancam dan dipersekusi agar tunduk pada kemauannya. Beragama dengan cara seperti ini sungguh menakutkan. Di saat ini di Indonesia, kita mungkin melihat hal yang sama. Ada orang-orang yang menyebut dirinya beragama, tetapi kebencian, amarah, caci maki, persekusi, kemunafikan, pengkhianatan, teror, dan sebagainya membalut dirinya sedemikian tebal. Berita di media sosial dan berita massa penuh dengan hal-hal semacam itu, bahkan mungkin kita sendiri menjadi saksi mata dari peristiwa yang terpampang di hadapan kita. Agama dan hal-hal yang bersifat rohani dipermalukan dan turun derajatnya. Ada orang-orang yang akhirnya bersikap sinis terhadap agama.
Ketika Allah memanggil Paulus, Ia merombak cara pandangnya. Yesus yang sudah bangkit itu menjumpai Paulus dan memanggilnya untuk menjadi pemberita Injil. Sekali lagi, Paulus mendapat didikan, kali ini dengan cara Allah. Untuk beberapa saat, Paulus buta (lht. Kis. 9:8). Hal ini agaknya menyiratkan bahwa pandangan Paulus sebelumnya harus dimatikan agar ia memperoleh pandangan yang baru. Kini, ia melihat dunia dalam kacamata Kristus. Ia bukan lagi seorang pembinasa dan penganiaya, namun seorang yang memberitakan keselamatan dan kehidupan. Diri Paulus yang baru tidak lagi melihat orang lain sebagai musuh yang harus ditaklukkan. Orang lain adalah sesama ciptaan Allah. Orang lain adalah manusia yang dikasihi Allah. Orang lain adalah manusia yang layak menerima pengampunan dan keselamatan dari Allah.
Cara pandang seperti ini pula yang mestinya kita warisi. Iman Kristen tidak diwujudkan dengan tindakan menyingkirkan, mempermalukan, menghina orang lain, betapapun mereka berbeda dari kita. Justru karena Allah mau dan sudah menerima kita orang yang berdosa, kita pun semestinya melakukan yang sama terhadap orang lain. Dalam banyak suratnya, Paulus tak jemu-jemu menasihati agar orang Kristen menunjukkan perilaku kristiani yang memperlakukan orang lain sebagai orang yang Allah kasihi. Bersikap ramah (bdk. 1Kor. 4:13; 2Tim. 2:24), memikirkan kebaikan bagi orang lain (bdk. Rm. 15:2), tidak saling menantang dan mendengki (bdk. Gal. 5:26), dan sebagainya. Memperlakukan manusia sebagai manusia merupakan tindakan dari komunitas yang beradab.
Menarik membaca gambaran Paulus tentang dirinya sebelum dan sesudah menerima Yesus. Sebelumnya, dia adalah seorang yang “keras bertindak menentang nama Yesus dari Nazaret” (ay. 9). Namun, ia diubah menjadi “pelayan dan saksi” bagi Yesus (ay. 16). Kita dapat memaknainya bahwa beragama dan juga beriman semestinya tidak mengusung kekerasan. Bahasa agama semestinya bukanlah bahasa kekerasan. Sebaliknya, beragama dan beriman berarti belajar merendah, tetapi juga menyuarakan kebenaran Allah. Beriman kepada Allah terwujud dalam tindakan melayani dan mengabdikan hidupnya agar kasih Allah terpancar. Sebagai orang Kristen kita bukan sedang berlomba siapa yang paling kuat, paling benar, paling hebat, atau paling unggul dibanding dengan umat lain. Jika itu yang sedang kita lakukan, gereja akan turut andil dalam kehancuran masyarakat. Sebagai “pelayan dan saksi”, kita dipercaya oleh Allah membangun kehidupan bersama orang lain dalam kesetaraan, persahabatan, dan kejujuran. Dengan demikianlah, kita sebagai gereja memberi sumbangsih bagi masyarakat yang lebih beradab.


Untuk didiskusikan:
1. Rasa benci terhadap orang lain yang berbeda (apa pun bentuknya) dapat memicu tindak kekerasan. Apakah Anda pernah mengalaminya? Bagaimana mengatasinya?
2. Apakah Anda setuju bahwa fanatisme agama turut membangun masyarakat yang tidak beradab? Jelaskanlah!
3. Jika kita dipercaya oleh Allah menjadi pelayan dan saksi, apa saja yang dapat kita lakukan untuk membangun dan memelihara komunitas yang makin beradab? (JNM)

15-May-19

Yakobus 2:14-26

Iman: Percaya dan Bertindak

“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.”
(Yakobus 2:17)
Seorang pria ahli akrobat terkenal melaksanakan aksinya dengan berjalan diatas bentangan kawat baja yg melintas air terjun Niagara. Penontonnya sangat banyak. Sesaat sebelum pria ini beraksi dia menanyakan apakah penonton percaya dia bisa menyeberangi air terjun ini dengan berjalan tanpa alat pengaman apapun. Semua penonton menjawab, “percaya”. Dia kemudian bertanya lagi, percayakah kalian saya bisa menyeberangi air terjun ini dengan menggendong seseorang di atas pundak. Penonton menjawab kembali, “percaya”. Dia berkata lagi, kalau anda percaya, mari saya undang satu di antara kalian untuk saya gendong. Seketika itu juga semua penonton terdiam, tak ada yang bersedia. Tiba-tiba seorang anak laki-laki mengangkat tangan dan berseru, “saya bersedia”.
Pemain akrobat segera menggendong anak itu dan mereka berjalan sampai di seberang jurang dengan selamat. Penonton bersorak sambil bertanya, siapa anak yang nekat tersebut. Ternyata anak tersebut adalah anak dari ahli akrobat tersebut! Anak itu percaya kepada ayahnya, itulah sebabnya di bersedia untuk digendong menyeberangi air terjun dengan berjalan di atas bentangan baja. Anak dalam cerita ini bukan sekedar percaya, tapi membuktikannya dengan tindakan.
Dalam perikop ini, penulis Surat Yakobus menggunakan ilustrasi yang mudah dipahami untuk mengecam pengakuan iman yang tidak diikuti dengan tindakan atau perbuatan. Diawali dengan mengutarakan seorang yang mengetahui saudaranya tidak memiliki pakaian dan kekurangan makanan, tapi yang dilakukannya kepada saudara yang keadaanya memprihatinkan tersebut hanya ungkapkan simpati, tanpa melakukan sesuatu untuk menolong. Selanjutnya dengan merujuk pada kehidupan Abraham dan Rahab. Abraham membuktikan imannya dengan menaati perintah Allah agar mengorbankan Ishak. Rahab, membuktikan membuktikan imannya, dengan bertindak menyembunyikan mata-mata Israel di rumahnya dan menolong mereka untuk meloloskan diri. Kedua perbuatan tersebut adalah ketaatan pada perintah Allah, dan membuat mereka dibenarkan.
Iman dan perbuatan tidak dapat saling meniadakan, keduanya adalah dwitunggal, tidak dapat dipisahkan. Iman dan perbuatan merupakan perwujudan sempurna dari kekristenan yang sesungguhnya sehingga orang percaya tidak bisa memilih mana yang lebih penting atau mana yang ingin dimilikinya. Ini bukanlah masalah antara memilih iman atau perbuatan-perbuatan, melainkan mengenal keduanya baik iman maupun perbuatan-perbuatan.
Perikop ini, mengingatkan kita, bahwa ada praktek Kekristenan yang salah yaitu memilih antara iman atau perbuatan, padahal yang seharusnya adalah keduanya. Iman harus mewujud atau memperlihatkan dirinya melalui perbuatan-perbuatan. Sebaliknya, perbuatan-perbuatan dikerjakan hanya melalui iman. Iman sebagai dasar yang telah dianugerahkan mendorong kita untuk bertindak, dan tidak ada tindakan yang kita lakukan tanpa didorong oleh iman.


Untuk didiskusikan:
1. Sebutkan contoh atau pengalaman pemisahan antara iman dan perbuatan, dan alasan apa yang mendasarinya?
2. Bagaimana mewujudkan kesatuan iman dan tindakan dalam kehidupan kita? (RNK)

22-May-19

Amsal 1:1-7

Hikmat dalam pekerjaan, sebelumnya?

“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”
(Amsal 1:7)
Amsal pasal 1 ini dapatlah dikatakan sebagai pembukaan yang memberikan gambaran keseluruhan dari isi Kitab Amsal itu sendiri. Pasal ini terbagi atas:
Ayat 1 memberikan informasi tentang siapa nama pengarang
Ayat 2-3 memberikan informasi tentang tujuan, obyek dan desain dari kumpulan kata-kata hikmat dan berbagai didikan, serta kata-kata bermakna yang terdapat di keseluruhan Kitab Amsal ini.
Ayat 4-6 memberikan informasi tentang manfaat dari berbagai kumpulan kata-kata hikmat, didikan, dan kata-kata bermakna yang terdapat di keseluruhan Kitab Amsal ini, yaitu untuk memberikan kecerdasan kepada yang tidak perpengalaman, pengetahuan dan kebijaksanaan kepada orang muda, serta pertimbangan kepada orang bijak dan berpengertian.
Ayat 7 memberikan kesimpulan awal atas keseluruhan isi Kitab Amsal ini, yaitu tentang dari mana datangnya hikmat, pengetahuan, kebijaksanaan dan pengertian itu.
Berangkat dari isi Amsal pasal 1:1-7 ini, maka dapatlah disimpulan bahwa segala hikmat, pengetahuan, berbagai ilmu pengetahuan, berbagai didikan yang baik, kecerdasan dan kebijaksanaan, bukanlah sekedar datang dari akal manusia dan usaha manusia untuk mencarinya, merumuskannya, mengupayakan dan meraihnya. Semuanya berasal dari satu sikap yaitu “Takut akan Tuhan”. Sikap inilah yang menjadi permulaan dari semua hikmat, pengajaran yang baik, kecerdasan, kebijaksanaan dan pengetahuan.
Kata “takut” dalam ayat 7 berasal dari kata bahasa Ibrani “yir'âh” (יראה ) yang memiliki arti “menghormati”. Frase “takut akan Tuhan” bukanlah dalam pengertian “takut” kepada sesuatu yang menakutkan dan juga lebih dari sekedar “hormat” kepada seorang atasan. “Takut akan Tuhan” adalah sikap dari orang-orang yang mengasihi Tuhan, hidupnya beribadah kepada Tuhan, hidup menurut jalan-jalan Tuhan, dan berpegang pada perintah serta ketetapan Tuhan dengan segenap hati dan jiwa (bdk. Ulangan 10:12-13). Rasa “takut” seperti inilah yang menjadi awal hikmat dalam kehidupan ini.
Dengan pemahaman ini dan dikaitkan dengan perenungan Firman Tuhan dalam kebaktian minggu sebelumnya (lht. Keluaran 35:30-35), serta juga dikaitkan dengan panggilan kita untuk bekerja dan melakukan segala pekerjaan baik seperti untuk Tuhan sendiri, maka kita dapat menyimpulkan bahwa untuk dapat melakukan segala pekerjaan baik dengan baik dan bertanggungjawab, kita memerlukan ilmu, pengetahuan, wawasan, ketrampian dan kecakapan yang diperlukan. Untuk dapat memiliki semuanya, kita harus mau untuk terus belajar mendapatkannya. Usaha untuk mendapatkannya, dalam konteks isi Amsal 1:1-7 ini datang bukan sekedar dari kerja keras belajar dan menguasai suatu ilmu pengetahuan, keahlian, ketrampilan dan kecakapan, tetapi dimulai dari memiliki sikap hati untuk hidup menurut Firman Tuhan, berpegang pada segala ketetapan Tuhan dan beribadah dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan. Semuanya ini adalah bentuk relasi personal dengan Tuhan yang harusnya mewarnai keseluruhan kehidupan kita, termasuk juga di dalam pekerjaan yang dilakukan.


Untuk didiskusikan:
1. Hubungan hikmat pengetahuan dan pekerjaan yang dilakukan!
2. Bagaimana cara mengaplikasikan sikap “takut akan Tuhan” di dalam dunia pekerjaan? (AAS)

29-May-19

Yosua 24: 14-15

Beriman Tidak Perlu Memaksakan Kehendak Dan Pilihan Kepada Orang Lain

“Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah;”
(Yosua 24: 15a)
Apa agama kamu? Pertanyaan yang seolah-olah tampak biasa saja. Sesungguhnya sangatlah tidak elok ingin mengetahui agama orang lain sebab bersifat privasi. Tidak setiap orang merasa nyaman jika ditanya agamanya. Bagi mereka sangat menyebalkan karena agama adalah tentang urusannya sendiri dengan Tuhan. Mari renungkan bahwa apakah sesungguhnya kepentingan bagi kehidupan kita untuk mengetahui status agama orang lain? Patut dicurigai ketika terlalu menganggap penting status agama orang lain, jangan-jangan akan turut mempengaruhi bagaimana perlakukan terhadapnya. Contoh kecil jika terdapat aktor kesukaan yang sama agamanya maka bisa jadi lebih mengidolakannya. Sadar atau tidak sadar melalui contoh sederhana tersebut ternyata orang lain bisa dibedakan menurut status agamanya.
Kemudian terjadi fenomena saling menyindir agama di pembicaran publik atau dunia maya. Barang kali tujuannya hanya ingin membanggakan diri dan hendak membuat orang lain menjadi kagum kepadanya. Akan tetapi perbuatannya hanya akan membuat orang lain merasa dihina dan disepelekan.
“Anda bukanlah orang lain dan orang lain bukanlah anda” merupakan ungkapan yang mengundang kita agar mampu menerima orang lain apa adanya. Hendaknya disadari bahwa tidak ada faedahnya ketika bertanya status agama orang lain dan tidak ada faedahnya ketika mengobral kata-kata yang menyudutkan agama lain. Perbedaan tidak bisa dipaksakan untuk menjadi sama. Dan semestinya perbedaan agama tidak menjadi persoalan dalam hidup ini sebab masih banyak persoalan penting lainnya yang harus segera diselesaikan. Intinya agama orang lain bukanlah urusan kita apalagi dijadikan sebagai persoalan hidup kita.
Di kalimat terakhir ayat 15, Yosua menyatakan demikian, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN”. Kalimat ini mengumumkan sebuah sikap tegas Yosua dalam memilih Tuhan. Ia menghayati kebersamaan dengan Tuhan dalam pengalamannya bahkan pengalaman nenek moyangnya pada waktu dahulu. Sebelum ayat 14, Yosua menyampaikan sejarah perjalanan cinta Tuhan dengan seluruh bangsa Israel. Tuhan telah membebaskan belenggu perbudakan Mesir melalui kepemimpinan Musa. Perbuatan Tuhan sepanjang masa telah memanggil Yosua untuk bersikap setia. Ia sadari banyaknya kebaikan Tuhan sehingga imannya kepada Tuhan tidak dapat dilepaskan begitu saja. Yosua 24: 15a mengatakan demikian “jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini, kepada siapa kamu akan beribadah”. Kalimat ini mempersilahkan kepada bangsa Israel untuk mengambil keyakinan yang terasa cocok bagi mereka. Jika dianggap Allah tidak baik maka janganlah beribadah kepada-Nya. Sebagai pemimpin, Yosua memberi keleluasaan untuk memilih. Yosua merasa tidak perlu memperdebatkan apalagi memaksakan dalam menentukan keyakinan umat. Mereka pun pasti sudah menyaksikan secara langsung bagaimana kebaikan Tuhan dalam hidupnya.
Setiap orang mempunyai kisahnya masing-masing bersama dengan Tuhan. Keyakinan agama berawal dari penghayatan atas segala perbuatan yang sudah Tuhan kerjakan dalam hidupnya. Loyalitas terhadap agama berarti menyadari bahwa terdapat sejarah hidupnya bersama dengan Tuhan yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Dengan demikian saat tidak menghormati atau menghargai agama orang lain seperti tidak mengakui atau menerima adanya narasi hidup seseorang bersama dengan Tuhan-nya. Maka, ketika memaksakan agama pada orang lain menjadi sebuah sikap yang sangat tidak etis. Pengalaman seseorang bersama dengan Tuhan sifatnya hakiki atau tidak dapat diganggu gugat oleh orang lain. Keyakinan agama adalah sebuah keputusan pribadi yang layak untuk dihormati berdasarkan pada penghayatan dan kesadaran pengalaman hidup masing-masing orang.
Dalam konteks kebhinekaan, umat Kristen bertemu dan hidup bersama dengan mereka yang berbeda agama. Hendaknya relasi tidak dibatasi oleh perbedaan agama. Kiranya kita boleh menyebarkan kasih kepada siapapun tanpa memandang agama. Mereka adalah kawan bukan lawan, hanya saja kita perlu menyadari bahwa yang namanya kawan tentu mempunyai privasinya, dalam hal ini ialah agamanya sebagai sesuatu yang tidak bisa kita campuri.


Untuk didiskusikan:
1. Ceritakanlah pendapat saudara dalam melihat kasus diskriminasi agama!
2. Menurut saudara bagaimana semestinya sikap kita dengan agama lain yang berbeda? (JST)

05-Jun-19

Mazmur 10:16-18

Allah Bagi Kaum Tertindas

“Keinginan orang-orang yang tertindas telah Kau dengarkan ya TUHAN; Engkau menguatkan hati mereka, Engkau memasang telingaMu”
(Mazmur 10:17)
Pendirian rumah ibadah khususnya gedung gereja seringkali menimbulkan polemik di tengah masyarakat, bahkan, masih ada beberapa Gereja melakukan peribadahannya di jalan karena belum bisa menggunakan gedung gerejanya untuk beribadah. Hal ini juga terjadi dan dialami oleh dua jemaat GKP, yaitu GKP Jemaat Katapang dan GKP Jemaat Dayeuhkolot juga belum bisa menggunakan gedung gereja di wilayahnya masing-masing.
Ada rekan dari agama lain mengungkapkan demikian, “Semakin banyak rumah ibadah seharusnya tidak menjadi kekhawatiran karena menjadikan umat beragama semakin baik dalam bersikap, karena tempat ibadah adalah sarana pembinaan umat untuk menjadi orang baik”. Namun, yang terjadi di lapangan seringkali berbeda. Ketidakadilan dan penindasan terus terjadi, khususnya terkait dengan Hak Asasi Manusia untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinannya masing-masing serta mendapatkan tempat untuk beribadah. Lalu apakah kita kemudian diam saja melihat ketidakadilan terjadi, baik yang dialami oleh kita atau orang lain?
Latar belakang dari mazmur ini menggambarkan kondisi kehidupan yang tidak adil. Ada penindasan terjadi, khususnya pada anak yatim dan orang-orang yang terpinggirkan. Namun di tengah-tengah kondisi ketidakadilan dan penindasan, pemazmur memiliki keyakinan bahwa TUHAN adalah Raja yang Maha mendengar, memberikan kekuatan dan keadilan bagi yang ada dalam penindasan. Seseorang yang diperlakukan tidak adil, membutuhkan sosok yang mau mendengarkan keluh kesahnya-pergumulannya. Bagi pemazmur, Tuhan-lah Sang Pendengar yang baik. Tidak hanya mendengarkan dengan seksama, namun juga bertindak. Tindakan Tuhan diwujudkan dengan memberikan kekuatan dalam hati orang-orang yang tertindas untuk menghadapi ketidakadilan itu dan berjuang untuk tetap menjalani kehidupan dan mencari keadilan bersama dengan Tuhan. Tuhan memberikan kekuatan, mendampingi proses umat dalam mendapatkan keadilan, sehingga keadilan itu tercapai. Melalui mazmur ini kita diberikan kekuatan, bahwa dalam keadaan tertindas oleh karena ketidakadilan yang dialami, TUHAN ada bagi kita agar kita bisa terus berproses memperjuangkan keadilan itu dengan cara-cara yang bijaksana. Kita tidak dibiarkan lelah sendiri, namun justru mendapatkan kekuatan dari TUHAN untuk terus berjuang mengupayakan keadilan.
Selain itu, ketika pemazmur menggambarkan TUHAN sebagai Tuhan yang mau mendengar dan bertindak bagi orang-orang yang mengalami ketidakadilan, maka saat ini kita diajak untuk melihat sesama yang ada di sekitar kita. Siapakah orang-orang di sekitar kita yang mendapatkan perlakukan tidak adil, ditindas, atau didiskriminasi? Maka kita diingatkan untuk hadir bagi mereka sebagai perwakilan TUHAN yang Maha Mendengar dan adil. Kita diajak untuk menjadi sahabat, mendengar keluh kesah mereka dan bertindak, berjuang dengan penuh kasih untuk mewujudkan keadilan. Mungkin akan ada perasaan lelah dalam proses itu, tetapi kekuatan akan tetap ada karena berasal dari Tuhan.
Di sekitar kita mungkin ada yang kelaparan, hidup dalam kemiskinan, mendapatkan tindakan kekerasan dalam rumah tangga, kaum LGBTIQ yang sering mengalami diskriminasi atau kaum disabilitas yang seringkali direndahkan. Maka, apa yang kita (Gereja) bisa lakukan bagi mereka? Seperti TUHAN yang mendengar dan bertindak bagi yang tertindas, bagaimana dengan kita?


Untuk didiskusikan:
1. Apa yang seringkali membuat kita tidak peka terhadap ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita?
2. Bagaimana cara kita sebagai Gereja bisa terus mengupayakan perjuangan untuk keadilan bagi orang-orang yang tertindas? Bukan saja berjuang untuk diri kita sendiri, namun juga bagi orang lain? (DAP)
dpa krt gkp 19

12-Jun-19

Kisah Para Rasul 2:1-21

Let’s Do It!

Akan terjadi pada hari-hari terakhir -demikian firman Allah- bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki akan bernubuat, dan teruna-teruna akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi”
(Kisah 2:17)
Ada seorang teman yang pernah saya coba ajak untuk ikut aktif melayani berkata bahwa dia ingin mengejar karirnya karena dalam beberapa tahun ke depan. Targetnya adalah agar posisinya bisa lebih tinggi dan mendapatkan gaji. Beberapa tahun kemudian, setelah teman itu berkeluarga, saya mengajak kembali aktif dalam pelayanan. Kali ini pun dia menolaknya dengan alasan sedang sibuk dengan pekerjaan dan juga anaknya. Saya pun kembali untuk menunggunya. Lalu beberapa tahun berikutnya, saya mendengar bahwa rekan saya ini mengalami penyakit yang membuatnya tidak dapat beranjak dari tempat tidur. Kali ini, ketika saya sedang menjenguk orang tersebut, dia sontak langsung mengatakan bahwa dia tidak bisa lagi ikut dalam pelayanan karena tidak dapat berpindah dari tempat tidur. Lalu, ketika dia sedang tidur, Tuhan datang kepadanya dan mengajaknya pulang. Sambil menjawab panggilan Tuhan, dia meminta maaf karena selama ini tidak bisa ikut ambil bagian.
Pada bacaan kali ini, kita dapat melihat apa yang terjadi pada para murid. Peristiwa turunnya Roh Kudus membuat mereka melakukan sesuatu yang membuat orang lain tercengang. Para murid yang dihinggapi oleh Roh Kudus akhirnya bisa berkata-kata dengan berbagai macam bahasa. Akibatnya orang lain mengira mereka sedang mabuk. Sangat dapat dipahami ketika orang lain menganggap mereka mabuk. Mabuk karena mereka berbicara dengan bahasa yang mungkin sebelumnya mereka tidak pernah belajar atau bahkan mereka tidak tahu sama sekali.
Melihat hal tersebut Petrus mengingatkan bahwa mereka dihinggapi Roh Kudus supaya dapat berbuat sesuatu. Roh Kudus membuat mereka berani melakukan sesuatu sehingga ada bukti nyata dalam karya penyelamatan Tuhan. Yesus berjanji untuk memberikan Penolong bagi manusia dan hal ini terbukti dalam peristiwa dikaruniakannya Roh Kudus.
Roh kudus mampu membuat manusia melakukan pelayanan hingga melakukan mujizat. Tidak ada yang tidak mungkin ketika Roh Kudus sudah bernaung di atas manusia. Namun, masalahnya sekarang adalah kita sering menyangkal keberadaan Roh Kudus dengan berbuat yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, yaitu dengan sering menolak untuk melakukan pekerjaan yang sudah Yesus tunjukkan. Roh Kudus memang mampu membuat manusia melakukan hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh manusia. Sekarang tinggal manusianya, apakah siap menerima Roh Kudus itu atau akan membiarkannya begitu saja.
Dengan adanya Roh Kudus, kita diajak untuk mau terlibat di dalam karya penyelamatan Allah yang besar untuk manusia. Kita bisa ambil bagian dalam pelayanan di tempat kerja maupun di gereja. Ada sebuah tuntutan kerja nyata yang membuat manusia bisa untuk ambil bagian dalam pelayanan. Selain itu, kita juga diajak untuk peka terhadap sekitar sehingga kita bisa melakukan sesuatu seperti apa yang Yesus tunjukkan kepada kita.


Untuk didiskusikan:
1. Mengapa Roh Kudus begitu istimewa bagi kita kehidupan pelayanan kita secara luas, termasuk yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dan di tempat kita bekerja?
2. Ceritakan pengalaman anda tentang bimbingan Roh Kudus ketika dalam hal di atas! (THC)

19-Jun-19

Roma 1:16-17

Iman yang lahir dari Pengalaman

“Orang benar akan hidup oleh iman.”
(Roma 1:17)
Kota Roma adalah kota metropolis, yakni pusat roda administrasi negara dengan aktifitas pelayaran yang tertib dan teratur sebagai jalur perdagangan. Segala macam orang dan pendatang hadir di pusat kota tersebut. Kekristenan pun tumbuh di kota tersebut. Besar kemungkinan yang membawa Kabar Baik (Injil) dan segala pola hidup kekristenan adalah orang-orang Yahudi yang kembali dari peziarahannya di Yerusalem. Mereka bukanlah orang-orang yang menjadi saksi langsung dari karya Yesus Kristus (yaitu para Rasul), atau orang-orang yang ditentukan oleh Kristus sendiri untuk menyaksikan karya-Nya (rasul Paulus).
Pada masa itu, setiap orang Yahudi rajin melakukan penyebaran agama untuk menambah jumlah penganut agamanya. Dengan pemahaman seadanya yang mereka miliki tentang siapa Yesus Kristus, mereka berusaha memperkenalkan dan mengajak orang-orang di kota Roma untuk tertarik sebagai pengikut Kristus. Hingga pada tahun 49 M, sejarahwan Roma (Suetonius) menceritakan bahwa di kota itu sempat terjadi keributan besar yang disebabkan oleh seorang tokoh bernama “Khrestos”, yakni Yesus Kristus. Besar kemungkinan terjadi pertikaian di antara orang-orang Kristen Yahudi dengan orang-orang Yahudi yang tidak percaya pada Kristus. Kerusuhan itu memancing tindakan kaisar Roma (lht. Kis. 18:2), sehingga kaisar pun terpaksa mengusir orang Yahudi dari kota Roma. Sampai pada suatu masa yang tersisa tinggal di kota itu adalah orang Kristen bukan Yahudi, selain penduduk asli kota Roma. Namun mereka tetap mewartakan tentang Kristus dengan pengetahuan seadanya yang mereka miliki. Ketika perintah kaisar dicabut kembali, orang Yahudi pun kembali berdatangan ke kota Roma3.
Oleh karena pengetahuan yang terbatas, alhasil kekristenan yang bertumbuh di kota tersebut tidak berakar kuat dan berbuah dengan baik karena ditaburkan bukan berdasarkan kesaksian iman/pengalaman nyata orang-orang yang menaburkannya. Kesalahan dalam memahami tentang siapa Yesus dan ajaran-Nya, apa kehendak Allah dan perintah-perintah-Nya, mudah menimbulkan pertikaian. Dengan kata lain, pengetahuan yang lahir dari sekedar mendengarkan tidak akan menghadirkan iman yang benar. Oleh karena itulah, rasul Paulus merasa perlu mengirimkan suratnya kepada orang-orang Kristen di Roma. Sekalipun Paulus tidak memiliki pengenalan secara pribadi terhadap umat Kristen di kota itu, ia tetap membuka telinga untuk mendengar informasi tentang pemahaman iman mereka (1:8), dan berharap agar mereka memiliki pengetahuan yang benar tentang Injil dan iman yang benar.
Ayat 16-17 itulah yang menjelaskan seluruh isi suratnya, yakni suatu kesimpulan yang disampaikan di permulaan surat. Berbeda dengan surat-surat yang pernah ia tulis untuk jemaat di tempat lain (yang seringkali ditulis sebagai suatu respon cepat atas persoalan yang terjadi), kali ini Paulus menuliskan seluruh suratnya dengan tenang sebagai suatu refleksi atas pengalaman 20 tahun menyebarkan kabar baik (Injil) ke berbagai tempat. Dalam dua ayat itulah (ay. 16-17), Paulus mengungkapkan imannya yang telah melewati suatu proses pengalaman yang panjang. Suatu kesimpulan yang matang tentang Injil yang lahir dari perpaduan antara pengetahuan dengan pengalaman pribadinya, bahwa:
ay.16 Injil adalah kekuatan yang datang dari Allah yang dapat menyelamatkan setiap orang, dan Paulus bangga terhadap Injil yang diberitakannya;
ay.17 cara Allah membenarkan manusia di hadapan-Nya adalah cukup dengan percaya (beriman) kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah.
Ketika umat Kristen saat itu seringkali disesatkan oleh berbagai petunjuk keselamatan dari orang-orang yang memiliki keterbatasan pengetahuan, Paulus hadir dengan kemantapan iman yang lahir dari pengetahuan dan pengalamannya. Dengan mantap memberikan suatu konsep yang benar tentang bagaimana keselamatan dari Allah diberikan melalui hidup beriman dalam Yesus Kristus.


Untuk didiskusikan:
1. Apa yang seringkali terjadi ketika manusia, khususnya orang Kristen, hidup dengan hanya mengandalkan pengetahuan saja atau sebaliknya, hanya mengandalkan pengalaman tanpa pengetahuan dalam hidup beriman?
2. Upaya apa saja yang Gereja dapat lakukan (dalam hal ini jemaat tempat kita menjadi anggota di dalamnya) melahirkan umat yang beriman kuat, tetapi sekaligus memiliki pengetahuan yang luas dan pengalaman yang reflektif sehingga menjadi umat yang berkualitas? (MRA)
3 Groenen, C., Pengantar ke Dalam Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius, 1987, hal. 217-225

26-Jun-19

Kejadian 41:1-36

Roh Kebenaran yang Menuntun kepada kebijaksanaaan

“Yusuf menyahut Firaun: ‘bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun.”
(Kejadian 41:16)
Kehidupan yang dialami oleh Yusuf tidaklah mudah. Saudara-saudaranya menjualnya menjadi budak belian, dan akhirnya dipenjarakan karena mempertahankan kebenaran.
Suatu ketika, saat Yusuf di penjara, ia bertemu dengan juru roti dan juru anggur yang memperkenalkannya kepada Firaun. Pertemuan Yusuf dengan Firaun menjadi pertemuan yang mendebarkan sekaligus mengubah hidup Yusuf. Pertemuan ini menjadi sebuah titik balik dalam kisah perjalanan hidup Yusuf yang sebelumnya selalu mengalami penderitaan sejak dijual oleh saudara-saudaranya sendiri.
Dalam kegelisahan yang dialami oleh Firaun, Allah memberikan tuntunan keselamatan kepada umat-Nya melalui orang-orang yang tidak terpikirkan sebelumnya. Tuhan memakai juru anggur yang pernah ditafsirkan mimpinya oleh Yusuf, untuk menyatakan kekuasaan-Nya di dunia. Firaun meminta juru anggur memanggil Yusuf untuk segera menafsirkan apa yang ia mimpikan
Dapat dibayangkan bagaimana perasaan Yusuf saat dipanggil raja. Hanya saja, Yusuf adalah seorang sosok yang tangguh dan yakin atas penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Bahkan, ketika ia bertemu Firaun di istananya, Yusuf menafsirkan semua mimpi dengan hikmat Tuhan. Roh Allah menuntun dirinya sehingga mampu berkata-kata dengan tegas dan lugas di hadapan raja.
Firaun kagum dengan kemampuan Yusuf menafsirkan mimpinya. Firaun berpendapat bahwa kemampuan Yusuf berasal dari dirinya sendiri. Yusuf menangkal pendapat itu dan menegaskan bahwa kemampuan yang ia miliki semata-mata adalah bagian dari pekerjaan Allah di dunia melalui dirinya. Ia dapat berkata-kata dengan penuh hikmat, semuanya adalah karena Allah berperkara di dalam dirinya. Ia tidak berjuang sendiri, tetapi Allah ada bersama-sama dengan dirinya.
Coba kita renungkan bersama! Apakah dalam kehidupan sehari-hari kita dapat seperti Yusuf? Saat kita diperhadapkan dengan kekuasaan, kita lupa daratan dan tidak lagi mengandalkan Tuhan. Yusuf memberikan teladan, bahwa orang yang bergumul dengan Tuhan akan memperoleh hikmat dan kebijaksanaan. Orang yang mengandalkan Tuhan, maka Roh Kudus ada di dalam orang itu untuk menuntun kepada kebijakan.


Untuk didiskusikan:
1. Seberapa sering kita lupa mengikutsertakan Allah dalam kehidupan sehari-hari?
2. Apa yang dapat kita pelajari dari kisah Yusuf yang setia bergaul dengan Allah? (JKA)

03-Jul-19

Yeremia 22:1-9

Keadilan dan Kedamaian

“Sebab jika kamu sungguh-sungguh melakukan semuanya itu, maka melalui pintu-pintu gerbang istana ini akan berarak masuk raja-raja yang akan duduk diatas takhta Daud dengan mengendarai kereta dan kuda: mereka itu, pegawai-pegawainya dan rakyatnya.”
(Yeremia 22:4)
Menurut saudara, mana yang terlebih dahulu diperlukan dan diperjuangkan, keadilan atau kedamaian? Apakah keadilan hanya akan tercipta ketika ada keadaan yang damai? Atau sebaliknya kedamaian akan tercipta jika keadilan sudah terwujud? Nampaknya pertanyaan ini seperti pertanyaan tentang mana yang lebih dulu telur atau ayam? Tentu saja setiap jawaban atas pertanyaan tersebut memiliki argumentasi masing-masing tetapi yang jelas telur dan ayam mempunyai kaitan yang tidak terpisahkan, bukan? Demikian pula halnya ketika kita berbicara tentang keadilan dan kedamaian, kedua hal tersebut saling berkaitan erat satu sama lain. Tidak ada kedamaian tanpa keadilan. Orang akan bertikai dengan sesamanya ketika diperlakukan tidak adil. Demikian pula, tidak akan ada keadilan tanpa kedamaian. Orang yang mempunyai dendam atau sakit hati akan terus merasa diperlakukan tidak adil, tidak akan merasa puas.
Tuhan mengutus Yeremia ke istana raja Yehuda untuk menyampaikan kepada raja beserta pegawai-pegawainya agar melakukan keadilan dan kebenaran dalam menjalankan kekuasaan mereka. Sebagai penguasa, sudah seharusnya mereka melindungi rakyat yang tertindas dan tidak berdaya, bukan sebaliknya membiarkan atau bahkan turut menindas rakyatnya. Yeremia menyampaikan jika mereka sungguh-sungguh melakukan itu, maka takhta Daud akan berjaya (ayat 4). Jika tidak, maka istana akan hancur (ay. 5). Peran para penguasa dalam menjalankan pemerintahan berdampak langsung pada keberlangsungan kehidupan rakyatnya. Penguasa yang memperjuangkan keadilan akan menghadirkan kedamaian bagi kerajaannya. Penguasa yang mengabaikan keadilan hanya akan mendatangkan kehancuran.
Bagi sebagian besar orang, keadilan seringkali diartikan sebagai sikap yang netral, tidak berat sebelah dan tidak memihak. Namun, ibarat membangun sebuah jembatan, seseorang tidak bisa memulai pembangunan dari tengah, ia harus memilih salah satu sisi untuk bisa mencapai sisi yang lainnya. Kita belajar dari Tuhan Yesus yang datang ke dalam dunia dan memilih untuk berpihak kepada yang lemah, miskin, berdosa dan menderita agar bisa menyelamatkan semua manusia. Yesus menentukan sebuah pilihan untuk memulai tindakan keadilan yang berujung pada kedamaian dan Yesuspun mengupayakan menghadirkan damai agar keadilan tercipta. Oleh karena itu, kita dapat memahami mengapa Yeremia mengajak raja dan para pegawainya untuk memperhatikan nasib orang yang dirampas, orang asing, yatim dan janda sebagai bentuk keadilan (ay. 3).
Tuhan telah mempercayakan berbagai hal dalam kuasa manusia. Ia mempercayakan bumi ini, keluarga, masyarakat, gereja, pekerjaan kepada kita. Pesan Yeremia berlaku juga bagi kita yang hidup di masa kini agar dalam menjalankan kekuasaan yang kita miliki, kita bersungguh-sungguh memperjuangkan keadilan dan kedamaian. Kita belajar memperhatikan mereka yang terpinggirkan, menderita dan teraniaya, sehingga mereka dapat diperlakukan sesuai dengan haknya dan menikmati keadilan. Apakah kita mau memperjuangkan keadilan dan kedamaian dalam lingkup yang terkecil sekalipun? Jika iya, tentu saja kedamaian akan turut mengiringi kehidupan ini.


Untuk didiskusikan:
1. Bagikan pengalaman saudara saat berupaya bersikap adil di dalam keluarga maupun di masyarakat!
2. Apakah dengan memperjuangkan hak mereka yang lemah dan teraniaya (manusia, hewan, lingkungan) merupakan bentuk sikap memperjuangkan keadilan yang menciptakan kedamaian? Bagikan pendapat saudara? (SYW)

10-Jul-19

Matius 9:9-13

Menjadi Jalan Tuhan

“Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.”
(Matius 9:10)
Ada sebuah kisah mengenai seorang anak yang mencuri obat di apotek. Pemilik apotek mengejarnya, dan hendak memukulinya. Seorang bapak pedagang mie merasa iba dan mendekati mereka. Dibayarnya harga obat yang dicuri tersebut kepada pemilik apotek, dan diberikannya sebungkus makanan bagi anak yang mencuri tadi. Anak itu pulang. Bertahun-tahun kemudian, bapak pedagang mie itu jatuh sakit. Warungnya akan dijual untuk membayar seluruh kebutuhan perawatannya. Tak disangka, ternyata seluruh biaya rumah sakit telah lunas dibayar. Belakangan, ia mendapat pesan dalam sebuah kertas di kamarnya, yang bertuliskan: “Biaya RS telah lunas oleh sebungkus makanan dan obat yang kuterima 25 tahun lalu”.4
Kasih, penerimaan dan pengampunan yang diberikan bapak pedagang mie itu ternyata terekam dengan baik dalam ingatan anak kecil yang dahulu mencuri. Perjumpaannya dengan bapak pedagang mie itu sungguh membekas bagi anak kecil miskin yang berusaha mencari obat bagi ibunya yang sakit kala itu. Mungkin akan menjadi lain ceritanya, apabila anak tersebut dibiarkan dipukuli oleh pemilik apotek. Bukan impian menjadi pribadi lebih baik, melainkan menjadi pribadi penuh dendam pada setiap orang yang dengan kejam menghukumnya yang tengah mencari obat bagi ibunya yang sakit. Bapak pedagang mie memilih jalan dengan mendidik anak tersebut dengan tidak menghukumnya. Melalui kasih dan pengampunan yang diberikan, ternyata membuka jalan bagi anak tersebut untuk hidup lebih baik di masa mendatang. Bahkan anak tersebut menjadi jalan kesembuhan bagi bapak pedagang mie.
Dari kisah di atas, kita dapat belajar bahwa kadang kala jalan kasih, penerimaan dan pengampunan dapat membuka kesempatan orang lain untuk mengenal Allah lebih dekat. Bapak pedagang mie menjadi jalan bagi anak yang mencuri untuk mengenal kasih dan memutuskan hidup lebih baik. Yesus memiliki banyak cara dalam memberitakan pengajaran-Nya. Dalam memberitakan pengajaran-Nya tidak jarang Yesus harus mengalami tantangan. Mulai dari disangsikan pengajaran-Nya oleh pemuka agama lainnya, sampai ditolak atau diusir dari tempat di mana Ia mengajar. Dalam perjalanan pelayanan-Nya, Yesus berjumpa dengan Matius yang tengah duduk di rumah cukai. Ia pun mengajak Matius untuk mengikuti-Nya. Matius bangkit berdiri, meninggalkan meja cukainya dan membuka pintu rumah-Nya bagi Yesus. Matius tampak bersemangat menyambut Yesus datang ke rumahnya. Bagaimana tidak? Ia tahu Yesus bukanlah seorang Guru biasa, banyak orang membicarakan kuasa-Nya pada banyak orang. Oleh karena itu, Matius tidak mau kehilangan kesempatan. Segera ia menyambut Yesus dan murid-Nya dengan sebuah jamuan makan. Tak disangka, satu per satu pemungut cukai dan orang berdosa lainnya berdatangan di rumah Matius. Matius telah menjadi jalan bagi Yesus untuk berjumpa dengan orang berdosa lainnya.
Di rumah Matius, Yesus makan bersama dengan mereka semua. Keadaan ini menimbulkan pergunjingan diantara para Farisi. Dalam masyarakat Yahudi kesucian ritual dan makan bersama merupakan praktek keagamaan yang penting. Oleh karena itulah, Para Farisi memandang bersalah Yesus yang membiarkan para pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama dengan-Nya. Pekerjaan pemungut cukai memang dipandang sebagai sesuatu yang najis. Hal itu disebabkan karena mereka dianggap sering bersekongkol dengan pemerintah Romawi, dan sering kali mereka menarik uang lebih banyak daripada yang seharusnya. Akibatnya, orang-orang Yahudi yang bersedia menjadi pemungut cukai sangat dibenci oleh saudara sebangsanya. Mereka dianggap sebagai pengkhianat negara dan agama.
Keterbukaan Yesus terhadap keberadaan Matius, dan keterbukaan diri Matius yang menerima ajakkan Yesus mampir dalam rumah-Nya telah menuntun pada jalan pendamaian/pertobatan banyak orang berdosa lainnya. Jawaban Yesus yang diplomatis, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.... karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (lht. Luk. 9:12-13) di hadapan banyak orang membuat mereka semua tersadar bahwa berita Kerajaan Allah adalah milik semua orang (termasuk orang berdosa yang sesungguhnya seharusnya mendapat perhatian lebih daripada yang lainnya). Apabila kita hadir diantara mereka, bisa dibayangkan apa yang dirasakan oleh orang berdosa
ketika mendengar ucapan Yesus itu? Bisa jadi, tidak hanya perasaan terharu bahagia karena selama ini mereka selalu dipandang sebelah mata. Akan tetapi, ada juga perasaan sungkan dan malu pada kasih Yesus yang besar bagi mereka, kasih yang sebenarnya mereka rasa tak layak mereka terima. Jalan yang Yesus pilih dengan mendobrak kebiasaan cara pandang masyarakat Yahudi terhadap praktik keagamaan dan cara memperlakukan sesama yang lemah, terabaikan, membuka jalan kebaikan bagi banyak orang. Hal inilah yang kemudian mengantar mereka mengalami pendamaian dan berubah menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Misalnya saja Matius, ia meninggalkan meja cukainya dan ia pun menjadi salah seorang murid Yesus. Kerelaan Yesus menerima Matius sebagai murid seharusnya membuka jalan pula bagi penerimaan berbagai macam orang ke dalam gereja.


Untuk didiskusikan:
1. Tantangan apa saja yang membuat kita merasa sulit untuk menjadi “jalan” Allah yang membawa perubahan dan kebaikan bagi sesama? Jika Matius membuka dirinya menjadi jalan bagi pertobatan banyak orang berdosa lainnya, bagaimana dengan kita adakah pengalaman hidup serupa dengan itu?
2. Upaya apa yang bisa mulai kita lakukan agar hidup kita dapat menjadi “jalan” yang menyenangkan hati Tuhan dan sesama? (SGN)

17-Jul-19

Galatia 3:22-29

Ekspresikan Cintamu!

“Setiap orang yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus sebagai ganti apa yang dikenakan sebelumnya”
(Galatia 3:27-28)
Setiap orang yang hidup dalam Kristus diselamatkan karena iman dan kepadanya diberi kebebasan untuk mengekspresikan cinta kasih Allah bagi sesama. Kebebasan ini harus dipahami juga sebagai kesempatan yang terbuka untuk memberitakan kabar baik kepada orang-orang yang memiliki perbedaan dengan kita. Perbedaan yang biasanya menjadi “tembok tebal dan tinggi” atau “jurang dalam” yang menghalangi Injil Kristus sampai kepada mereka. Perbedaan itu adalah perbedaan suku dan ras, perbedaan status ekonomi-sosial, perbedaan gender, perbedaan sikap politik, perbedaan pendapat, perbedaan agama, dan berbagai perbedaan lainnya. Mengekspresikan cinta kasih Allah berarti harus siap meruntuhkan tembok-tembok itu dan melompati jurang yang dalam dan menyeramkan.
Rasul Paulus menegaskan pentingnya kesadaran bahwa sakramen Perjamuan Kudus yang baru saja kita rayakan pada hari minggu lalu, sebenarnya merupakan peringatan bahwa kita tidak boleh lagi mengenakan pakaian lama kita, yang membuat kita merasa lebih hebat dari yang lain, sehingga kita akan selalu bersikap tidak adil dan menindas sesama; kita juga tidak boleh merasa rendah daripada yang lain, yang dapat membuat kita bersikap inferior, merasa tidak berarti dan merasa rendah diri, sehingga tidak berani menyatakan diri sebagai murid Kristus yang berani memberitakan kabar baik. Sakramen Perjamuan Kudus membawa kita kepada kesadaran bahwa memang kita harus siap memikul salib karena pengorbanan Kristus, kita dipanggil untuk menjadi hamba yang menderita, tetapi Perjamuan Kudus sekaligus membuat kita akan selalu menyadari bahwa kita sudah menerima pembebasan dan kemerdekaan oleh darah Yesus dari kuasa dosa yang selama ini membelenggu kita.
Mengenakan Kristus berarti kita semua telah menjadi satu sebagai bagian dari tubuh Kristus, sekaligus juga menerima kemuliaan bersama dengan Dia sebagai pewaris-pewaris Kerajaan Allah. Kita tidak boleh memakai pakaian yang lama dan pakaian yang baru secara bersamaan, ketika kita sudah memakai pakaian yang baru, maka kita harus sudah melepaskan pakaian yang lama. Menjadi Gereja yang menerima sakramen, Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus, maka kita telah menjadi manusia baru, yang tidak hanya memiliki kehidupan yang baru, tetapi juga memiliki semangat untuk memberita Injil Kristus Yesus kepada sesama kita.


Untuk didiskusikan:
1. Hal-hal apa saja yang dapat membuat kita melupakan bahwa kita sudah mengenakan Kristus, dan kembali memakai pakaian lama kita?
2. Bagaimana caranya membangun persekutuan jemaat di mana kita hidup di dalamnya untuk selalu mengutamakan mengambil bagian dalam sakramen Perjamuan Kudus? Hal-hal apa yang sering menghambat seseorang untuk mengambil bagian dalam sakramen Perjamuan Kudus? (EGK)

24-Jul-19

Matius 5:43-48

Pasif atau Aktif?

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”
(Matius 5:44)
Dalam film-film dengan genre action, para penonton (mulai dari orang dewasa sampai ke usia anak-anak) seringkali disuguhkan dengan gagasan-gagasan tentang pembalasan dendam. Bahkan celakanya, gagasan tentang pembalasan dendam itu dipoles sedemikian rupa sebagai sebuah upaya penegakan keadilan. Para penonton seakan-akan digiring pada suatu paradigma, bahwa penegakan keadilan dengan cara pembalasan dendam (dengan cara kekerasan bahkan penghilangan nyawa) menjadi sesuatu yang sah dan lumrah.
Pemahaman seperti itu pun kuat dipegang oleh orang-orang di zaman Yesus (dan sampai zaman kita saat ini rasanya). Pembalasan dendam (apalagi dalam konteks perang) bahkan diturunkan ke generasi-generasi berikutnya untuk “dituntaskan”. Tak jarang, orang melakukan hal yang lebih jahat dan buruk saat melakukan pembalasan, seperti yang sering diucapkan, “Pembalasan lebih kejam daripada perbuatan.” Oleh sebab itu, di masa itu berlaku suatu hukum yang dikenal dengan sebutan ius/lex talionis, yakni hukum “mata ganti mata, gigi ganti gigi” (dan varian sejenisnya). Pada masa itu, hukum ini digadang-gadang sebagai hukum yang cukup adil (cara mengganjar pelaku dengan luka/perbuatan yang sama) di tengah maraknya pembalasan yang lebih kejam. Itulah yang diangkat oleh Yesus saat Ia mengajar orang banyak saat itu, “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.”
Di saat bagi kebanyakan orang, ius/lex talionis pun sudah terasa berat, Yesus justru mengajarkan sesuatu yang melampaui itu. Yang Yesus ajarkan justru “kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu!” (ay. 44). Tidak ada unsur “pembalasan” dalam khotbah/ajaran Yesus. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa keadilan terjadi saat kita mengambil jalan perdamaian (baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain). Tidak hidup dalam pembalasan dan kemauan untuk mendoakan kebaikan bagi orang yang berbuat jahat pada kita adalah bentuk ‘mengasihi’ yang konkret. Bagi Yesus, berbuat baik hanya bagi orang baik dan membalaskan kejahatan kepada orang yang berbuat jahat tidak mengandung ‘nilai lebih’ apapun (bdk. ay. 46-47). Sikap yang seperti itu (membalaskan dendam) hanyalah sikap orang yang pasif/reaktif. Tidak ada artinya kita memiliki akal budi dan nurani jika tindakan/perbuatan kita masih ditentukan oleh “apa yang orang lain perbuat atas kita”. Sikap pasif-reaktif juga mengerdilkan makna kehadiran dan kuasa Allah dalam diri kita. Bukankah Roh Kudus diberikan dalam diri kita agar kita menjadi teladan dalam segala hal? Yang berarti, jika kita menjadi “teladan”, maka kita yang harus berjuang mengawali segala sesuatu. Sikap hidup kita yang penuh kasih, harus ditentukan dan diinisiasi oleh diri kita sendiri (dalam kuasa Allah tentunya), bukan ditentukan oleh perbuatan orang lain. Berbuat baik pada orang baik dan berbuat jahat pada orang jahat, berarti menihilkan kuasa Roh Allah yang berperan mendidik dan membimbing kita. Tidak ada lebihnya dari orang yang tidak mengenal Allah sekalipun.
Yesus Kristus mengajarkan kita untuk tidak membangun iman dalam sikap pasif, melainkan kita harus menjadi pelopor terjadinya perdamaian. Gerakan perdamaian dalam upaya menegakan keadilan, itulah yang Yesus ajarkan dan teladankan; bukan sebaliknya, dengan pembalasan dendam. Orang Kristen adalah orang yang dipanggil membawa damai (Inggris: peace, Latin: pacem), sehingga seharusnya kita adalah orang-orang yang aktif menciptakkan perdamaian. Yesus mengajarkan dalam Matius 5:9, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”
Di tengah gempuran provokasi media yang mengadu domba dan menebarkan kebencian, sudah seharusnya Gereja membentuk dan menumbuhkan pribadi-pribadi yang aktif menciptakkan perdamaian. Gereja tidak boleh menjadi entitas yang pasif dalam arus hasutan kebencian. Sebaliknya, Gereja harus menjadi inisiator dan teladan dalam menghadirkan cinta kasih dan perdamaian. Di awal abad ke-20, Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr., dan Nelson Mandela telah menjadi tokoh-tokoh yang gigih berjuang demi keadilan dengan jalan perdamaian di konteksnya masing-masing. Maka, kini saatnya kita, GKP yang berjuang menjadi Gereja yang aktif menciptakan perdamaian di konteks Indonesia. GKP tidak boleh hanya pasif menunggu semuanya ‘menjadi baik’. Warga Jemaat GKP justru harus menjadi bagian dari inisiator perdamaian di konteknya masing-masing. So, pilih mana? Masih mau menjadi seorang Kristen pasif, atau berjuang dalam perubahan menjadi seorang yang aktif menciptakan perdamaian?


Untuk didiskusikan:
1. Apa hal tersulit dalam mengampuni dan mendoakan orang yang pernah melukai hidup saudara?
2. Apa yang harus kita (Gereja) lakukan untuk membentuk dan menumbuhkan pribadi Kristen yang aktif menciptakkan perdamaian di konteks kita masing-masing? (DNS)

31-Jul-19

Galatia 6: 1-10

Kerjasama Melakukan Kebaikan

“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu!
Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”
(Galatia 6: 2)
Dalam bukunya The Art of Happiness: A Handbook for Living, Howard C. Cutler menuliskan pemikiran-pemikiran seorang Dalai Lama tentang “hidup” yang ditulisnya bersama Sang Dalai Lama, setelah ia mendengarkan ceramah-ceramah dan melakukan percakapan-percakapan pribadi dengannya. Ketika membahas tentang sifat dasar manusia, Dalai Lama memiliki pandangan bahwa sifat dasar manusiawi kita adalah lembut dan pengasih. Pandangan ini semakin terbukti dengan banyaknya penelitian yang menyatakan bahwa perilaku jahat atau kejam muncul dalam diri manusia karena pengaruh sosial, lingkungan dan bukan karena sifat dasar manusia. Banyak peneliti Amerika yang akhirnya menyimpulkan bahwa manusia memiliki sifat dasar untuk bersikap peduli terhadap kesejahteraan orang lain. Seorang sosialog bernama Dr. Linda Wilson mengatakan hal tersebut merupakan salah satu bentuk naluri alami manusia untuk bertahan hidup. Sebagai contoh, ketika terjadi bencana alam di sebuah wilayah, maka secara alamiah, manusia lain akan bergotong-royong untuk menolong para korban bencana tersebut dengan berbagai cara dan bentuk.
Naluri untuk saling peduli, saling memerhatikan dan saling menolong ini yang juga ingin dieksplorasi oleh Rasul Paulus di dalam kehidupan jemaat di Galatia. Rasul Paulus sadar bahwa menjadi pengikut Kristus bukan perkara yang mudah pada saat itu. Ada pihak-pihak tertentu yang hendak memecah belah mereka dengan menyebarkan pengajaran-pengajaran yang bertentangan dengan ajaran Rasul Paulus. Jika tidak diantisipasi maka kehidupan jemaat akan mengalami goncangan. Untuk itu Rasul Paulus memberikan pesan dan sekaligus nasihat bagi mereka.
Rasul Paulus menekankan pentingnya menunjukkan rasa kepedulian satu dengan yang lain. Ketika ada yang melakukan suatu pelanggaran, yang lain harus memimpin orang itu ke jalan yang benar (ay. 1). Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu (ay. 2), membagi segala sesuatu yang ada padanya (ay. 6). Hal-hal tersebut menunjukkan bagaimana sesama pengikut Kristus harus memiliki kepedulian satu dengan yang lain, menunjukkan kebaikan yang bukan hanya untuk diri sendiri tetapi ajakan untuk bekerjasama melakukan kebaikan. Kepedulian yang ditekankan oleh Rasul Paulus juga memperlihatkan pada kita bahwa kebaikan itu harus dikerjakan atau dilakukan bersama-sama. Kebaikan juga memiliki dimensi komunal—bersama-sama maka dibutuhkan kerjasama. Percayalah, kebaikan yang dikerjakan bersama-sama itu dapat memberikan dampak yang lebih besar dari yang dapat kita bayangkan.
Di era masa kini semangat saling peduli dan saling memerhatikan semakin lama semakin sulit ditemukan. Kerjasama melakukan kebaikan menjadi hal yang langka. Banyak orang lebih memilih menyelamatkan diri sendiri saja. Saling menolong dianggap hanya membuang-buang waktu, tenaga, pikiran bahkan materi. Di sinilah kita sebagai pengikut Kristus menunjukkan bahwa melakukan kebaikan bukanlah barang langka, melakukan kebaikan secara komunal juga bukan barang langka. Bersama-sama menunjukkan kebaikan, semakin besar dampaknya, semakin tinggi nama Tuhan dimuliakan.


Untuk didiskusikan:
1. Berbuat baik seringkali dianggap hanya membuang-buang waktu, tenaga dan pikiran bahkan materi. Bagaimana cara saudara mengatasi pemikiran seperti ini?
2. Salah satu kendala yang timbul ketika akan berbuat baik adalah adanya pikiran bahwa ada orang lain yang lebih baik untuk melakukannya. Mengapa demikian? Bagaimana cara saudara mengatasinya? (JPH)

07-Aug-19

Nehemia 2: 11-20

Berkarya bagi Bangsa

“Berkatalah aku kepada mereka: "Kamu lihat kemalangan yang kita alami, yakni Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela."
(Nehemia 2:17)
“I have a dream” merupakan ungkapan Martin Luther King Jr. di akhir pidatonya pada 28 Agustus 1963. Pidato ini disampaikan menggebu-gebu di hadapan ratusan ribu orang di Lincoln Memorial, Amerika Serikat untuk membela persamaan hak-hak sipil yang kala itu masih sangat tinggi segregasi sosial soal orang-orang kulit putih dan non kulit putih. Saat itu perjuangan masih terus dikerahkan agar ada persamaan hak di Amerika, namun sekarang kita dapat mengenal bahwa orang kulit hitam bahkan pernah memimpin Amerika Serikat, yaitu Barack Obama yang sekaligus menjadi presiden kulit hitam pertama dalam sejarah Amerika Serikat.
Keyakinan terhadap impian itu memang perlu dinyatakan sehingga ada semangat untuk terus memperjuangkan impian itu dengan cara-cara yang baik dan tepat. Visi yang ideal dan baik tidak hanya dimiliki Martin Luther King Jr. di tahun 1963, namun dimiliki juga oleh Nehemia, seorang mantan juru minuman di Kerajaan Persia. Ia memiliki impian agar Yerusalem dapat dibangun kembali dan memiliki kehidupan yang ideal sebagai bangsa yang taat. Impian ini dapat kita lihat pada ayat 17. Nehemia hendak membangun kembali tembok Yerusalem yang telah hancur oleh karena perang dan serangan Babel atas Israel pada puluhan tahun sebelumnya.
Impian atas Yerusalem ini ternyata tidak lalu mendapat dukungan yang baik dari orang-orang yang mendengar. Pada ayat 19 terdapat olokan dan cemoohan dari orang-orang yang ada disekitar Yerusalem. Namun Nehemia tetap beriman dan berjuang untuk memenuhi impiannya tersebut di dalam TUHAN. Terlebih ketika Raja Artahsasta (ay. 18) siap menolong Nehemia dengan sumber daya yang dimiliki oleh Raja tersebut.
Dalam bagian teks ini kita belajar soal perjuangan yang tidak selalu mulus; terlebih bicara soal kehidupan bersama. Terkadang ada orang yang mau hidup dengan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Namun demikian, ada juga orang yang tidak mau berubah ke arah yang lebih baik dengan alasan-alasan yang sangat remeh.
Begitu pula bagi kita yang tinggal di Indonesia ini, tidak mudah bagi kita berkarya bagi bangsa, karena bangsa Indonesia meliputi banyak suku, ras, agama, dan karakteristik. Kita sering berhadapan dengan tantangan dan hambatan akibat perbedaan yang ada. Akan tetapi keteguhan hati dalam iman dan doa yang dinyatakan oleh Nehemia seharusnya memampukan kita untuk tetap berpengharapan dalam doa dan karya untuk kehidupan yang ideal bagi bangsa Indonesia.


Untuk didiskusikan:
1. Kekuatan apa yang dapat membuat kita berjuang untuk kebaikan bangsa Indonesia?
2. Apa yang membuat kita mencintai bangsa Indonesia dengan segala keterbatasannya? (BDE)

14-Aug-19

Kolose 1:15-23

Iman: Keyakinan yang Layak Diperjuangkan dan Dipertahankan

“Sebab itu kamu harus bertekunn dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.” (Kolose 1: 23)
Salmon dikenal sebagai ikan yang mempunyai kandungan protein tinggi dan harganya yang cukup mahal. Akan tetapi, tahukah kita bahwa kehidupan salmon tidak semudah yang kita bayangkan? Secara singkat kita akan melihat siklus kehidupan ikan tersebut. Salmon lahir di perairan air tawar (sungai). Biasanya mereka akan menetap di tempat mereka dilahirkan selama kurang lebih tiga tahun. Setelah jangka waktu tersebut, mereka akan bermigrasi ke lautan dan menetap dalam kurun waktu satu hingga lima tahun sampai mencapai usia matang (secara seksual). Sesudah mencapai kematangan usia mereka akan kembali ke sungai tempat mereka dilahirkan untuk berkembang biak. Di sini perjuangan keras dimulai. Mereka harus melawan arus sungai yang deras agar bisa berkembang biak. Salmon dapat menempuh arus sungai sejauh 1.400 km. Bayangkan jika mereka tidak melawan arus dan selalu terbawa arus, tentu mereka tidak akan bisa berkembang biak dan eksistensi mereka tidak akan pernah kita dengar.
Siklus kehidupan salmon tersebut menjadi pengantar bagi kita untuk membahas Surat Paulus kepada Jemaat Kolose (Kolose 1:15-23). Bagi Paulus ada sebuah konsekuensi yang harus dijalani oleh jemaat Kolose (dan kita semua) ketika Kristus di dalam keutamaan-Nya telah menjadi ‘pendamai’. ‘Mendamaikan’ – seperti yang diungkapkan oleh Paulus – bukan sekedar memulihkan sebuah relasi, namun di dalam relasi tersebut juga harus ada keharmonisan (keserasian dan keselarasan). Keselarasan ini digambarkan dengan kekudusan manusia (dijadikan kudus oleh karena Kristus), karena Kristus adalah kudus (ay. 22). Ketika manusia sudah berdamai dengan Allah, sudah dijadikan kudus, maka manusia harus menjaga kekudusannya. Kudus berarti terpisah atau khusus. Artinya, kehidupan manusia seharusnya dipersembahkan khusus bagi Allah melalui seluruh aspek kehidupannya. Selain itu, Paulus juga menekankan tentang iman yang harus ditekuni. Inilah konsekuensi yang mau disampaikan oleh Paulus, bahwa ketika kita sudah diperdamaikan dan dikuduskan maka kita harus bertekun dalam iman. Tekun dalam iman berarti tetap mempertahakan apa yang diyakini dan mengekspresikan keyakinan tersebut secara terus-menerus (tidak berkesudahan).
Pertanyaannya, maukah kita memperjuangkan dan mempertahankan iman itu di tengah arus pencobaan dan kehidupan? Ikan salmon harus melawan arus untuk memelihara kehidupannya (agar tetap eksis), walaupun sering terbawa arus, namun ia berupaya dan berjuang untuk sesuatu yang ia yakini. Bagaimana dengan kita manusia? Bukankah iman adalah sesuatu yang layak dan pantas untuk diperjuangkan dan dipertahankan, oleh karena Allah di dalam Kristus Yesus telah memperjuangkan dan mempertahankan keberadaan manusia (agar tidak binasa)?! Mari kita perjuangkan dan pertahankan iman kita di tengah arus pencobaan seperti halnya salmon yang berjuang dan bertahan di tengah arus sungai.


Untuk didiskusikan:
1. Melalui pengalaman kehidupan kita dan berdasarkan pengalaman tersebut, hal apa yang seringkali membuat iman kita tergoncang?
2. Bagaimana kita memaknai ungkapan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakikatnya mati (bdk. Yakobus 2:17)? (HSV)

21-Aug-19

Efesus 4:28-29

Belajar Hidup Jujur

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.”
(Efesus 4:29)
Menjadi seorang pengikut Kristus bukan hanya sekedar percaya dan mengimani bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat yang menebus kita dari dosa dan kesalahan. Pengikut Kristus juga juga artinya melakukan apa yang Kristus ajarkan dan teladankan. Terlebih lagi, ketika kita percaya dan mengimani bahwa pengorbanan Kristus menyelamatkan kita, maka hidup kita juga diubahkan. Rasul Paulus berkata, “Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru (Ef. 4:20b-24a)”. Artinya, menjadi pengikut Kristus harus belajar meninggalkan sifat dan sikap lama yang tidak baik dan menjadi manusia baru.
Tentu meninggalkan hal yang lama dan membiasakan hal yang baru membutuhkan proses; tak bisa instan dan cepat. Proses itulah yang membuat diri belajar dan terus belajar. Salah satu hal yang menjadi penekanan Rasul Paulus bagi jemaat Efesus ialah untuk tidak mengulang kebiasaan mencuri dan menjaga perkataan kita. Jemaat Efesus sendiri memiliki pergumulan di dalam kehidupan berjemaatnya, yakni ada beberapa orang yang berusaha memecah-belah para pengikut Tuhan menjadi kelompok-kelompok yang berbeda dan tidak mengikuti pemberitaan Paulus yang telah mereka terima (Alkitab Edisi Studi, 1916). Rasul Paulus melalui suratnya mau mengingatkan kepada jemaat di Efesus untuk kembali mengingat dan menjalankan apa yang sudah diberitakan oleh Paulus sebelumnya untuk hidup dalam pengajaran dan teladan Kristus.
Salah satu yang diingatkan adalah tentang cara hidup mereka sebagai umat yang telah ditebus Tuhan. Dalam pembacaan Alkitab kita saat ini, Rasul Paulus mengingatkan untuk hidup jujur dengan tidak mencuri dan menjaga perkataan mereka. Hidup orang Kristen seharusnya menjadi berkat dan membangun iman. Rasul Paulus berharap iman mereka kepada Kristus semakin bertumbuh melalui hidup jujur. Jemaat di Efesus diajak untuk belajar hidup jujur, jujur dalam tindakan dan perkataan. Mencuri adalah salah satu tindakan tidak jujur, maka Rasul Paulus menentangnya karena tidak jujur terhadap hasil pekerjaannya. Selain itu, tindakan mencuri yang melambangkan ketidakjujuran juga mengakibatkan kerugian bagi orang lain. Selain mencuri, Rasul Paulus juga mengingatkan untuk tidak mengeluarkan perkataan kotor. Perkataan kotor bukan hanya cacian dan makian, tetapi juga kebohongan. Kebohongan menjadi salah satu kriteria perkataan kotor yang dilarang untuk dilakukan. Satu kali berbohong, maka orang akan cenderung untuk melakukan kebohongan yang lainnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya.
Apa yang disampaikan Rasul Paulus adalah sebuah peringatan pengajaran bagi jemaat di Efesus dan juga bagi kita yang membacanya pada masa kini. Kita diingatkan untuk belajar jujur dalam tindakan dan perkataan sebagai konsekuensi mengikut Kristus. Memang tidak mudah, namun kita diminta untuk belajar terus melakukannya sehingga lahir kedisiplinan dalam hidup menurut pengajaran Kristus. Dengan demikian, kita meninggalkan hidup yang lama dan memulai hidup yang baru sebab kita pun diperbaharui dalam iman percaya kepada Kristus.


Untuk didiskusikan:
1. Apa yang menyebabkan saudara sulit untuk melakukan kejujuran dalam tindakan dan perkataan?
2. Bagaimana cara saudara menghadapi kesulitan tersebut? (WAH)

28-Aug-19

Efesus 4:30-32

Menjadi Manusia Baru yang Ramah kepada Sesama

“Tetap hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”
(Efesus 4: 32)
Beberapa tahun yang lalu, sekelompok salesman mengadakan pertemuan di suatu kota. Mereka memberitahukan kepada para istri mereka bahwa mereka baru bisa pulang pada malam hari dan makan malam di rumah. Ternyata pertemuan itu menjadi lama, sehingga membuat mereka tergesa-gesa ketika pulang. Mereka semua terburu-buru memasuki bus dan salah satu dari mereka tak sengaja menendang meja yang penuh buah-buahan. Ia kembali turun dari bus dan menemui penjual buah-buahan itu. Ternyata penjual itu buta. Salesman itu mengumpulkan beberapa buah yang bertebaran kemana-mana. Buah-buah itu menjadi rusak. Ia mengambil dompetnya dan berkata kepada orang buta penjual buah-buahan itu. “Terimalah Rp. 50.000 ini sebagai pengganti buah-buahan yang rusak. Saya harap kamu tidak jadi sedih.” Ketika ia pergi, anak-anak yang heran bertanya padanya, “Apakah Anda Yesus?” Salesman itu berhenti sejenak di tangga bus dan bengong.5
Cerita di atas memberikan kita gambaran bahwa sikap hidup kita sesungguhnya dapat mencerminkan Yesus Kristus. Hal itu hanya dapat dilakukan jika karakter Kristus ada dalam diri kita. Itu sebabnya rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Efesus bahwa karakter Kristus muncul dalam diri manusia baru, manusia yang dibaharui di dalam roh dan pikiran (ay. 23) untuk melakukan kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan (ay. 24).
Dalam mencerminkan karakter Kristus, maka kita harus memahami bahwa segala sesuatu yang kita lakukan haruslah dengan dasar kesadaran untuk menuruti tuntunan Roh Kudus. Jika kita mengeraskan hati pada tuntunan Roh Kudus, maka sesungguhnya kita sedang mendukakan-Nya (ay. 30). Dua ayat berikutnya (31 dan 32) menunjukkan sikap-sikap yang dapat mendukakan Roh Kudus dan sikap-sikap yang menyenangkan Roh Kudus. Sikap yang mendukakan Roh Kudus antara lain: kepahitan (Yunani: pikria, yang berarti kemarahan yang memimpin kepada kegeraman (band. Roma 3:14)), kegeraman (Yunani: thumos, yang berarti kemarahan yang hebat (bdk. Roma 2:8)), kemarahan (Yunani: orgê (bdk. Matius 5:22)), pertikaian (Yunani: kraugê yang berarti kegaduhan, misalnya teriakan karena marah yang menimbulkan kegaduhan, dsb.), fitnah (Yunani: blasphêmia yang berarti fitnah/ hujat terhadap Allah dan manusia). Selain kelima hal tersebut, bentuk-bentuk kejahatan lain juga harus dihindarkan.
Sebaliknya, umat Tuhan yang diperbaharui hidupnya harus menunjukkan sikap ramah (Yunani: khrêstoi yang berarti ramah atau murah hati), penuh kasih mesra (Yunani: eusplagkhnoi yang berarti berbelas kasih, lembut hati, murah hati, kasih mesra, (band. 1 Petrus 3:8)), dan hidup saling mengampuni (Yunani: kharizomai yang berarti mengampuni, memaafkan satu sama lain).
Ketika hidup ini berisi beragam pilihan untuk kita menentukan sikap, maka di tengah kesibukan atau masalah, mungkin akan sulit bagi kita untuk dapat bersikap ramah pada orang lain. Itu sebabnya ayat tersebut menyejajarkan sikap ramah dengan murah hati dan pengampunan. Ketika kita tidak dapat berdamai dengan orang lain atau berdamai dengan diri sendiri, termasuk juga berdamai dengan keadaan atau situasi, kita tidak akan mungkin mampu bersikap ramah. Kita akan terlalu sibuk dengan masalah kita sendiri dan tidak sempat untuk memilih mengambil sikap ramah meski harus terlambat pulang ke rumah seperti yang dialami salesman dalam cerita di atas.


Untuk didiskusikan:
1. Apakah ada kerugian yang akan kita dapatkan jika kita bersikap ramah kepada orang lain di tengah segala kesibukan kita?
2. Apa yang sebaiknya kita lakukan jika kita harus ramah kepada orang lain sementara kita sedang menghadapi masalah, sedih, marah atau dalam kesibukan? (ENT)

5. Sumantri, Yustinus, Hp., Litani serba salah pastor: 100 cerita bijak, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), 39.